Rangkaian kirab tersebut diawali dengan mengarak kesenian jaranan sepanjang 100 meter. Rutenya mulai dari Jalan Raya WR Supratman sampai masuk ke lokasi RW 2 Rampal Claket. Sesampainya rombongan di lokasi, dilaksanakan juga pementasan jaranan oleh Satrio Turonggo Jati.
“Kesenian Jaranan seperti kelompok Satrio Turonggo Jati merupakan kelompok pelestari budaya warisan leluhur kita yang perlu diapresiasi dan di fasilitasi," Kepala Bidang Kebudayaan Dikbud Kota Malang Dr Dian Kuntari.
"Kalau bukan kita siapa lagi dan khawatirnya nanti kesenian semacam ini akan di klaim lagi oleh negara lain," imbuhnya. Dian menambahkan, Dikbud Kota Malang akan terus memfasilitasi kegiatan seni budaya karena masuk dalam 10 objek pemajuan kebudayaan.
Sementara itu, Ki Demang Penggagas Kampung Budaya Polowijen dalam sambutannya, mengatakan kesenian jaranan merupakan ragam kesenian yang masuk dalam epos budaya Panji Nusantara.
“Pelestarian kesenian jaranan seperti Jaranan Satrio Turonggo Jati masuk dalam kategori konservasi budaya Panji diantara ragam kesenian lainnya yang di tampilkan. Seperti kesenian topeng Malang, Wayang Beber, Wayang Klitik dan kesenian kesenian lainnya,” ujar pria yang bernama asli Isa Wahyudi, yang juga merupakan Ketua Forkom Pokdarwis Kampung Tematik Kota Malang.
Pimpinan kesenian jaranan, sekaligus Ketua Kampung Satrio Tironggo Jati Nanang Gustanto menyampaikan, bahwa kirab ini sengaja digelar karena bagian dari ritual jaranan sekaligus. Yakni memperingati 2 tahun kelompok kesenian Jaranan Satrio Turonggo Jati dengan Selametan Tumpeng Suro Pungkasan.
"Selain kirab kita hanya menampilkan 15 menit tarian jaranan Satrio Turonggo Jati yang di dalamnya mengandung cerita tentang panji,” tuturnya.
Pewarta: Andika Satria Perdana Editor : Farik Fajarwati