Banyaknya kafe baru di Kota Malang berbanding lurus dengan meningkatnya peminat mixology.
Tempat-tempat yang membuka kelas untuk keterampilan mixology pun kerap dibanjiri pendaftar.
Salah satunya yakni Balai Pusat Pelatihan Perhotelan (BPLP) Brawijaya.
Ada dua program kelas khusus mixology yang dibuka di sana.
”Ada program reguler dan short course,” kata Munirul Ikhwan, salah satu pengajar di sana.
Program reguler ditempuh selama 8 bulan pelatihan.
Pada dua bulan pertama, ada pelatihan berupa materi dan praktik.
Sementara enam bulan setelahnya diwajibkan magang di kafe atau hotel.
Sedangkan short course umumnya dilakukan selama lima pertemuan saja.
Ikhwan menuturkan bila kunci meracik minuman adalah mampu mengenali berbagai macam karakteristik bahan.
Misalnya, membuat percampuran antara kopi dengan buah.
Ada beberapa karakteristik bahan yang harus dipelajari mixologist. ”Harus berani bereksperimen dan sering latihan. Itu bisa mempercepat proses belajar dan menemukan recipe baru,” ujar dia.
Mayoritas peminat kelas mixology di BPLP Brawijaya yakni perintis usaha kafe. Selain di kafe, mixology juga menjadi bagian penting dalam mendorong revenue atau pendapatan di hotel.
General Manager The Alana Hotel Malang Sistho A Sreshtho menyebut, food and beverage (FnB) menyumbang pendapatan terbesar kedua di hotel.
Menurutnya, selama ini minuman yang bervariasi menjadi daya tarik yang cukup besar bagi para tamu.
Sehingga, peran mixologist dalam FnB sangat diperlukan untuk menciptakan pilihan-pilihan minuman yang bervariasi.
”Semakin bagus produk minumannya, tamu happy, itu akan membawa revenue yang baik bagi hotel,” kata Sistho. (ori/dur/by)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana