
KEPANJEN, RADAR MALANG – Hujan masih turun, tapi Pemkab Malang sudah bersiap menghadapi kekeringan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang memprediksi, puncak kekeringan terjadi pada Agustus-September depan.
Kewaspadaan mengantisipasi bencana kekeringan karena sebelumnya sempat mencuat ancaman adanya El Nino Godzila. Itu merupakan istilah lain untuk El Nino ekstrem yang diprediksi muncul akhir April, meski belakangan tidak terbukti.

Fenomena itu disebabkan pemanasan suhu permukaan laut ekstrem di Samudra Pasifik yang memiliki intensitas jauh lebih kuat dan destruktif daripada El Nino biasa. Juga diikuti dengan melemahnya angin pasat, dan sering diperkuat oleh fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif. Dampaknya, kemarau berkepanjangan, krisis air, dan kebakaran hutan-lahan (Karhutla).
“Kami sudah melakukan antisipasi. Tepat pada 31 Maret lalu, tanggap darurat bencana Hidrometeorologi selesai,” ujar Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kabupaten Malang Purwoto kemarin.
Baca Juga: Kanjuruhan dalam Bayang-Bayang Kekeringan
Dengan berakhirnya status tanggap darurat bencana hidrometeorologi, dia mengatakan, kini masuk masa transisi atau pancaroba. Meskipun El Nino Godzila tidak terjadi, dia mengatakan, masih ada El Nino di Jawa Timur, khususnya di Kabupaten Malang.
Berdasar data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Juanda, Jawa Timur akan dilanda El Nino-Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) dengan kondisi netral hingga pertengahan tahun ini. Selanjutnya, El Nino terjadi penguatan pada level lemah hingga moderat sampai akhir 2026 dengan peluang sebesar 50-60 persen. Hal itu berdampak pada kekeringan.
Menurut dia, sekarang sudah masa-masa El Nino namun dampaknya belum terasa karena hujan masih turun di beberapa wilayah di Bumi Kanjuruhan. “Potensi kekeringan tetap ada, tapi kami akan lihat lagi perkembangannya sampai Agustus nanti,” kata pejabat eselon II B Pemkab Malang itu.
Terpisah, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik (KL) BPBD Kabupaten Malang Sadono Irawan mengatakan, pihaknya sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi kekeringan. “Prediksi puncak musim kemarau menurut BMKG jatuh pada Agustus sampai September depan,” terang dia.
Beberapa persiapan juga sudah dilakukan. Antara lain koordinasi lintas sektor. Melibatkan beberapa dinas, TNI-Polri, dan beberapa stakeholder terkait. Kemudian pemetaan wilayah-wilayah rawan bencana kekeringan.



