RADAR MALANG - Bagi para pelancong yang singgah di Stasiun Malang dan memiliki waktu terbatas untuk menjelajahi kota, Alun-alun Tugu menjadi destinasi yang sempurna.
Terletak tidak jauh dari stasiun, landmark ikonik yang berdiri di depan Balai Kota Malang ini menjadi saksi sejarah dan perjuangan di Kota Malang.
Sejarah Alun-alun Tugu dimulai pada tahun 1920, ketika Thomas Karsten, seorang arsitek Belanda, merancang taman ini sebagai penghormatan kepada Jan Pieterszoon Coen.
Pada masa kolonial, alun-alun ini masih berupa taman sederhana tanpa ornamen tugu maupun pagar. Alun-alun dikelilingi oleh jalan-jalan yang dinamai menggunakan nama jenderal Belanda.
Baca Juga: Dokar Wisata Alun-Alun Kota Batu Semakin Keren
Momentum bersejarah terjadi pada 17 Agustus 1946, tepat setahun setelah proklamasi kemerdekaan, ketika Gubernur Doel Arnowo bersama Walikota Malang menginisiasi pembangunan Monumen Tugu.
Desain monumen ini sarat makna perjuangan. Bentuk monumen terinspirasi dari bambu runcing dan rantai melingkar yang melambangkan persatuan.
Detail-detail pada monumen ini juga mengandung simbolisme tanggal kemerdekaan, 17 Agustus 1945.
Namun, perjalanan monumen ini tidak selalu mulus. Pada tahun 1947, saat pembangunan hampir rampung, Agresi Militer Belanda I menghancurkan monumen tersebut.
Tekad dan semangat rakyat Malang tidak pupus. Monumen ini kemudian dibangun kembali pada tahun 1953 dan diresmikan langsung oleh Presiden Soekarno.
Kini, Alun-alun Tugu tampil lebih memesona dengan kolam teratai yang mengelilinginya, pohon-pohon trembesi tua yang menjadi saksi sejarah. Ada juga air mancur yang menambah keindahan lanskapnya.
Tempat ini bukan sekadar ruang publik biasa, melainkan monumen hidup yang terus mengingatkan generasi baru akan perjuangan masa lalu. (Mahija)
Editor : Aditya Novrian