Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Menelusuri Makam Eyang Honggo Kusumo, Warisan Sejarah di Kayoetangan

Aditya Novrian • Selasa, 24 Desember 2024 | 22:51 WIB
Makam Mbah Honggo di kawasan Kajoetangan
Makam Mbah Honggo di kawasan Kajoetangan

RADAR MALANG - Kawasan Kayoetangan di Kota Malang bukan hanya dikenal sebagai tempat wisata budaya yang menarik, tetapi juga menyimpan sejarah yang dalam melalui keberadaan makam Eyang Honggo Kusumo.

Makam ini merupakan salah satu situs bersejarah yang menjadi saksi bisu perjalanan panjang sejarah Jawa Timur, khususnya dalam konteks penyebaran agama Islam dan perjuangan melawan kolonialisme.

Eyang Honggo Kusumo, atau yang lebih dikenal sebagai Mbah Honggo, adalah tokoh penting dalam sejarah Malang.

Beliau adalah guru ngaji dari Bupati Malang pertama, R.A.A Notodiningrat, dan merupakan keturunan langsung dari Prabu Brawijaya V.

Mbah Honggo dikenal sebagai ulama kharismatis yang hidup pada abad ke-8 Masehi dan terlibat aktif dalam perjuangan melawan penjajahan Belanda di Indonesia.

Makamnya terletak di Jalan Basuki Rahmad Gang 4, Kelurahan Kauman, Kecamatan Klojen.

Di samping makam Mbah Honggo terdapat makam Kiai Ageng Peroet, menambah nilai historis kawasan ini.

Dalam catatan sejarah, Mbah Honggo juga terlibat dalam Laskar Diponegoro dan mengajarkan agama Islam kepada masyarakat setempat setelah melarikan diri ke Malang pada tahun 1830-an.

Sayangnya, kondisi makam Eyang Honggo saat ini tidak sebanding dengan nilai sejarahnya.

Makam ini terlihat sepi dan kurang terawat, dengan pohon beringin besar yang rimbun dan tumpukan daun yang menumpuk.

Hal ini kontras dengan tempat-tempat wisata lain di sekitar Kayoetangan yang lebih fotogenik dan ramai pengunjung.

Mila Kurniawati, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kampung Heritage Kayutangan, mengungkapkan bahwa meskipun ada upaya perawatan, makam ini masih membutuhkan perhatian lebih agar dapat menjadi daya tarik wisata yang lebih baik.

Rencananya, pelataran makam akan direvitalisasi untuk dijadikan tempat pembuatan batik yang dapat meningkatkan daya tarik pengunjung.

Meskipun kondisi makam kurang terawat, kegiatan spiritual di sekitar makam masih berlangsung.

Acara haul kecil-kecilan dan selamatan sering diadakan oleh orang-orang yang datang dari jauh untuk mengenang jasa Mbah Honggo.

Ini menunjukkan bahwa meskipun tempat ini tidak ramai pengunjung, nilai spiritualnya tetap terjaga.

Kawasan Kayoetangan sendiri telah ditetapkan sebagai kawasan heritage oleh Pemerintah Kota Malang pada tahun 2018.

Dengan berbagai bangunan peninggalan kolonial Belanda dan situs-situs bersejarah lainnya, kawasan ini menawarkan pengalaman wisata budaya yang kaya akan edukasi sejarah.

Makam Eyang Honggo Kusumo adalah warisan sejarah yang penting bagi Kota Malang dan Indonesia secara keseluruhan.

Dengan perawatan yang lebih baik dan promosi yang tepat, makam ini dapat menjadi salah satu destinasi wisata religi yang menarik bagi pengunjung.

Seiring dengan upaya revitalisasi kawasan Kayoetangan, diharapkan kisah Mbah Honggo akan terus dikenang dan diwariskan kepada generasi mendatang. (Adrian Irfan Pratama)

Editor : Aditya Novrian
#sejarah #kayutangan #wisata religi #Revitalisasi #malang #makam #perjuangan ulama #jawa timur