RADAR MALANG - Ramadan tak hanya tentang kolak dan es blewah.
Indonesia menyimpan harta karun takjil tradisional yang perlahan menghilang, seperti kicak dari Yogyakarta (ketan dengan kelapa dan nangka), es selendang mayang Jakarta (minuman jadul warna-warni), atau grontol Jawa Tengah (jagung rebus dengan kelapa).
Makanan legendaris ini kini semakin sulit ditemui, tersingkir oleh jajanan modern yang lebih praktis.
Di Palembang, ada ragit yang mirip martabak India dengan kuah kari, dan rujak mi berpadu cuka pempek - kini hanya muncul sesekali di Pasar Kuto.
Aceh menyimpan kanji rumbi, bubur rempah dengan ayam suwir yang dipercaya bikin kuat puasa.
Sementara Banten punya ketan bintul kesukaan Sultan Hasanuddin sejak abad 16, sarat makna persatuan.
Tak ketinggalan growol dari singkong parut atau gethuk lindri warna-warni yang dulu meramaikan pasar Ramadan.
Kepunahan takjil tradisional terjadi karena tiga hal: bahan baku lokal seperti singkong semakin langka, generasi muda enggan melanjutkan usaha, dan gempuran makanan kekinian.
Padahal, setiap takjil ini menyimpan cerita unik.
Es selendang mayang contohnya, terinspirasi dari legenda Mayang Sari.
Ketan bintul punya filosofi tentang kebersamaan, sementara kanji rumbi menunjukkan kearifan lokal Aceh dalam menyiapkan makanan bergizi untuk berbuka. (sai)
Editor : A. Nugroho