ASAP pembakaran arang yang mengepul dari gerobak-gerobak sate menjadi pemKamungan khas di sudut-sudut kota Indonesia.
Beberapa waktu lalu, TikTok pernah dihebohkan dengan klaim bahwa sate sebenarnya berasal dari Arab atau India—benarkah demikian?
Menelusuri asal-usul sate seperti mengikuti jejak rempah di jalur perdagangan kuno.
Sejarawan kuliner seperti Jennifer Brennan dalam bukunya Balinese Food (2014) menyodorkan teori menarik: kata "sate" mungkin berasal dari istilah Tamil "sathai" atau dialek Tionghoa "sa tae bak".
Namun, Vivienne Kruger dalam penelitiannya justru menegaskan bahwa sate adalah adaptasi lokal Nusantara atas kebab yang dibawa pedagang Muslim Gujarat abad ke-15.
Di tengah silang pendapat itu, dokumen dari Sekolah Tinggi Pariwisata Mataram mengungkap fakta mencengangkan: sate sudah ada di Nusantara sejak 1843.
Legenda masyarakat Jawa bahkan menyebutkan nama Sunan Gresik sebagai inspirasi penciptaan sate, dikisahkan, muridnya yang bernama Satah gemar membakar daging kambing bertusuk bambu, yang kemudian disebut "daging satah" sebelum berubah pelafalannya.
Perjalanan sate tak lepas dari dinamika budaya.
Pada masa Majapahit, hidangan ini adalah santapan bangsawan, lalu menyebar ke kalangan umum berkat interaksi dengan pedagang Arab dan BelKamu.
Yang menarik, setiap daerah kemudian mengembangkan ciri khasnya sendiri: dari bumbu kacang Sate Madura yang legendaris, kuah kuning Sate Padang yang kaya rempah, hingga Sate Lilit Bali yang menggunakan kelapa parut.
Lalu bagaimana dengan klaim viral di TikTok?
Faktanya, meski memiliki kemiripan dengan kebab atau shashlik, sate tetaplah identitas kuliner Indonesia yang unik.
Brennan dengan tegas menyatakan dalam bukunya: "Thailand dan Malaysia tak bisa mengklaim sate sebagai milik mereka—pusat kreasi sejatinya ada di Jawa."
Kini, sate telah menjadi duta kuliner Indonesia di panggung global. (sai)
Editor : A. Nugroho