Menjamur sejak pandemi, kafe dengan konsep slow bar banyak hadir di sejumlah tempat.
Sistem manual brew dengan biji kopi kualitas tinggi jadi daya tarik utama.
Barista yang friendly dan tak pelit berbagi ilmu jadi bonusnya.
Memprioritaskan pengalaman pelanggan jadi gol utama yang diusung slow bar cafe.
Layanan utamanya yakni menyeduh kopi secara manual, dengan rasa yang benar-benar dijaga.
Seluruh aspek diperhatikan.
Mulai dari biji kopi, cara menyeduh, hingga tempat pelanggan menikmati kopi.
Secara spesifik, meja bar selalu dibuat berhadapan langsung dengan pelanggan.
Di depan keduanya, tersebar alat penyeduh kopi manual mulai grinder, filter, bahkan gelas khusus untuk penikmat kopi.
”Di Kota Malang, tren slow bar cafe mulai mencuat lagi sejak Covid-19 mereda,” ujar Hanif Zenid, Barista Motiv Coffee yang mengusung konsep slow bar.
Kiblatnya dari Klinik Kopi di Yogyakarta yang berdiri sejak 2013.
Sebelumnya, sudah banyak slow bar cafe di Kota Malang.
Namun sempat kalah dengan es kopi susu yang pengerjaannya singkat dan booming pada tahun 2016–2017.
Motiv Coffee awalnya fokus pada penjualan roastery sejak 2017.
Letaknya yang strategis membuat kafe di Ruko Istana Dinoyo, Kecamatan Lowokwaru itu membuka slow bar cafe.
Harga yang ditawarkan mereka mulai dari Rp25 ribu sampai Rp55 ribu.
Untuk menghadirkan pengalaman ngopi yang berkesan, biji kopi atau beans yang digunakan harus berkualitas tinggi.
Paling tidak kategori specialty dengan skor 80–83 dari 100.
Di Motiv Coffee, Hanif lebih sering memakai kopi lokal dari petani Indonesia.
Baru 20 persennya mencoba beans dari luar negeri seperti Australia.
“Kami banyak fokus beans fermentasi dengan buah-buahan,” lanjut Hanif sambil menyeduh beans Flores Wajamala.
Biji kopi asal Kecamatan Bajawa, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) itu memiliki aroma buah-buahan apel, orange blossom, dan black plum.
Saat diminum, biji kopi dari petani Marselina Walu itu menonjolkan rasa asam yang lebih dominan.
Alat-alat yang digunakan di sana cukup sederhana, tapi berkualitas tinggi.
Mulai dari hand grinder, Motiv Coffee berani berinvestasi tinggi.
Harganya mulai Rp3,2 juta.
”Kalau untuk filter kami punya semua mulai V60, Kalita Wave, Chemex, hingga siphon,” ungkap pria asal Sawojajar itu.
Selain harus jago menyeduh kopi, barista di slow bar cafe dituntut friendly.
Sebab, mereka harus bisa menjelaskan soal kopi dengan ramah dan sabar kepada pelanggan.
Interaksi yang hangat antara barista dan pembeli itu jadi bagian penting dari konsep kafe tersebut. (aff/by)
Editor : A. Nugroho