RADAR MALANG – Antrukan Pawon di Desa Kertowono, Kecamatan Gucialit, Lumajang, menjadi destinasi wisata alam yang kian diminati wisatawan dari berbagai daerah, termasuk Malang. Air terjun ini menawarkan keindahan alami yang jarang ditemukan di tempat lain, berpadu dengan suasana pegunungan yang sejuk dan tenang.
Air terjun ini terbentuk dari aliran air yang keluar langsung dari dalam gua batu. Air tersebut jatuh membentuk tirai bening menuju kolam alami di bawahnya. Keunikan ini menciptakan pemandangan yang memukau, terutama saat sinar matahari masuk melalui celah tebing dan memantulkan kilauan seperti kristal.
Nama Antrukan Pawon berasal dari bahasa Jawa, di mana “Antrukan” berarti celah atau lorong sempit dan “Pawon” berarti dapur. Filosofi penamaannya menggambarkan air yang keluar dari gua batu seolah menjadi “uap kehidupan” yang disajikan oleh alam untuk memberikan kesejukan.
Untuk mencapai lokasi, pengunjung perlu menyusuri jalan setapak yang melintasi semak, batuan, dan jalur menurun di antara pepohonan. Dahulu, jalur ini tergolong sulit dengan jalan sempit, minim penerangan, dan tanpa penanda arah. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, akses menuju Antrukan Pawon mulai dibenahi oleh pemerintah desa dan daerah. Perbaikan jalan, penambahan fasilitas penunjuk arah, serta penyediaan area parkir mempermudah wisatawan, termasuk yang datang dari Malang.
Kawasan ini tidak hanya menjadi tempat wisata, tetapi juga memiliki nilai edukasi. Pengunjung dapat mempelajari jenis-jenis tanaman hutan, mengenal budaya hidup masyarakat sekitar yang selaras dengan alam, serta memahami pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem. Beberapa warga sekitar juga terlibat dalam pengelolaan wisata, mulai dari pemandu, penjaga kebersihan, hingga pengelola parkir.
Antrukan Pawon memiliki ciri unik yang jarang ditemukan di air terjun lain. Salah satunya adalah kesempatan bagi pengunjung untuk memasuki area di balik tirai air dan merasakan langsung percikan embun alami. Suasana ini memberikan sensasi berbeda, karena suara gemuruh air dan udara lembap di dalam gua menciptakan pengalaman yang menenangkan. (id)
Pemerintah daerah mulai merancang sistem pengelolaan yang mengedepankan kelestarian alam. Upaya ini meliputi pembatasan jumlah pengunjung per hari, edukasi lingkungan, serta promosi pariwisata yang seimbang antara daya tarik dan konservasi. Langkah tersebut diharapkan menjaga keaslian Antrukan Pawon sekaligus memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat.
Bagi warga Malang yang ingin berkunjung, perjalanan menuju Antrukan Pawon dapat ditempuh sekitar dua hingga tiga jam melalui jalur darat. Akses kendaraan roda dua maupun roda empat tersedia, dengan jarak tempuh yang lebih singkat jika melewati rute Lumajang–Gucialit. Waktu terbaik untuk datang adalah pagi atau menjelang siang, saat cahaya matahari masuk ke dalam celah tebing dan memberikan efek visual yang memukau pada air terjun.
Dengan kombinasi keindahan alam, akses yang semakin mudah, dan pengelolaan yang melibatkan masyarakat, Antrukan Pawon berpotensi menjadi salah satu ikon wisata alam unggulan di Jawa Timur. Destinasi ini tidak hanya memberikan pengalaman rekreasi, tetapi juga mengajak pengunjung untuk lebih peduli terhadap pelestarian lingkungan.
Jika Tumpak Sewu telah dikenal luas sebagai salah satu air terjun terindah di Indonesia, maka Antrukan Pawon menghadirkan pesona yang berbeda. Kealamian, ketenangan, dan keunikan lokasinya menjadikannya tujuan wisata yang patut masuk daftar kunjungan warga Malang dan sekitarnya. (id)
Editor : A. Nugroho