RADAR MALANG – Fenomena praktik ramalan di Pesarean Gunung Kawi, Kabupaten Malang, tengah ramai diperbincangkan. Belakangan, sejumlah konten di media sosial menyebut adanya “tarot Tionghoa” yang bisa dilakukan di kawasan tersebut. Namun, para penggiat budaya menegaskan bahwa praktik itu bukan tarot, melainkan ciamsi, sebuah tradisi ramalan kuno yang dibawa masyarakat Tionghoa ke Indonesia.
Ciamsi sendiri merupakan praktik spiritual dengan menggunakan wadah bambu berisi puluhan batang tipis. Peziarah akan menggoyangkan wadah hingga satu batang jatuh, lalu mencocokkannya dengan kertas berisi syair atau tulisan tertentu. Syair inilah yang kemudian dianggap sebagai petunjuk untuk melihat rezeki, kesehatan, jodoh, atau keberuntungan hidup.
Di Malang, praktik ciamsi erat kaitannya dengan sejarah Gunung Kawi. Kawasan ini menjadi pusat spiritual yang memadukan budaya Jawa dan Tionghoa. Cerita turun-temurun menyebut nama Eyang Jugo dan Tamyang sebagai tokoh penting. Eyang Jugo disebut pernah melakukan perjalanan ke Tiongkok dan menolong seorang janda miskin. Anak dari janda tersebut, Tamyang, kemudian datang ke Gunung Kawi untuk merawat makam Eyang Jugo. Tamyang juga membangun tempat doa bergaya Tionghoa, yang hingga kini masih digunakan untuk ritual.
Kaitan sejarah itulah yang membuat budaya Tionghoa, termasuk tradisi ciamsi, hadir di Gunung Kawi Malang. Masyarakat setempat menganggapnya sebagai bagian dari aktivitas spiritual yang berdampingan dengan tradisi Jawa.
Fenomena ciamsi kembali populer seiring maraknya konten di TikTok dan Instagram. Banyak pengguna media sosial, termasuk generasi muda Malang, menyamakan ciamsi dengan tarot ala Barat. Padahal, keduanya berbeda jauh. Tarot menggunakan kartu bergambar simbolik, sedangkan ciamsi menggunakan batang bambu dan syair ramalan.
Pakar budaya menilai, kepopuleran ciamsi justru menjadi momentum untuk melestarikan warisan budaya Tionghoa di Malang. Tradisi ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana spiritual, tetapi juga menjadi daya tarik wisata religi yang mampu menarik peziarah maupun wisatawan umum.
Dengan ramainya perhatian publik, Gunung Kawi Malang kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu pusat spiritual Jawa Timur. Ciamsi yang kini viral disebut-sebut dapat menjadi jembatan antara tradisi leluhur dan rasa penasaran generasi muda.
Selain ciamsi, Gunung Kawi juga terkenal dengan kepercayaan pada pohon Dewa Daru. Pengunjung meyakini bahwa buah atau daun pohon tersebut membawa keberuntungan. Namun, syaratnya harus menunggu hingga daun atau buah jatuh sendiri, bukan dengan dipetik.(id)
Editor : A. Nugroho