Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Rekomendasi Peninggalan Kolonial di Malang yang Wajib Kamu Ketahui

A. Nugroho • Kamis, 4 Desember 2025 | 20:38 WIB
PENINGGALAN: Beberapa spot peninggalan kolonial di Kota Malang
PENINGGALAN: Beberapa spot peninggalan kolonial di Kota Malang

MALANG - Malang dikenal sebagai kota yang menyimpan banyak bangunan tua dengan nilai sejarah yang masih terasa kuat sampai hari ini. 

Jejak peninggalan kolonial menjadi bagian penting dari identitas kota, terutama melalui arsitektur dan cerita yang melekat pada setiap bangunan.

Dari pusat pemerintahan hingga kawasan ibadah dan pendidikan, setiap bangunan warisan kolonial memiliki kisah panjang yang menarik untuk kamu telusuri. 

Empat bangunan berikut bisa menjadi referensi ketika kamu ingin mengenal lebih dekat sejarah Kota Malang melalui arsitektur yang masih berdiri hingga saat ini.

 

  1. Balai Kota Malang

Balai Kota Malang berada di Jalan Tugu Nomor 1 dan berdiri sejak tahun 1929. 

Bangunan ini dirancang HF Horn dari Semarang setelah memenangkan sayembara yang digagas Wali Kota H.I. Bussemaker. Rancangan tersebut dibuat dengan motto Voor de burgers van Malang yang berarti “Untuk Warga Malang.”

Balai kota ini dibangun dengan gaya arsitektur Art Deco yang megah dan simetris. Keindahannya semakin terasa karena letaknya berada satu kawasan dengan Tugu Malang yang dikelilingi kolam serta air mancur. Suasana klasiknya menjadikan tempat ini spot favorit untuk foto.

Awalnya, Malang yang telah berstatus gemeente belum memiliki gedung pemerintahan permanen. Perencanaan pun dimulai pada akhir tahun 1926 dan Balai Kota Malang kemudian menjadi pusat pemerintahan hingga sekarang. 

Bangunan ini tetap mempertahankan arsitektur lamanya sehingga nilai historisnya tetap terjaga.

  1. Gereja Kayutangan

Gereja Hati Kudus Yesus atau Gereja Kayutangan berada di Jalan Jenderal Basuki Rahmat No 5. Gedung ini dibangun pada tahun 1905 oleh arsitek MJ Hulswit yang merupakan murid PJH Cuypers. 

Hulswit dikenal sebagai sosok yang banyak terlibat dalam pembangunan gereja bergaya gothic di era kolonial.

Bangunan gereja ini menonjol dengan menara tinggi, kaca patri berwarna dan interior bergaya Eropa. Dua tower di kanan dan kiri pintu masuk menjadi ciri khas arsitektur gothicnya. 

Di dalam gereja terdapat prasasti berbahasa Belanda yang dipersembahkan untuk Hati Kudus Yesus melalui kemurahan Monsengneur ES Luypen.

Selain menjadi tempat ibadah, gereja ini termasuk salah satu gereja Katolik tertua di Malang. Nilai sejarah dan arsitekturnya membuat gereja ini menjadi tujuan wisata religi maupun wisata arsitektur yang mengangkat nuansa kolonial.

  1. SMA Tugu

Bangunan yang kini menjadi SMA Negeri 1 Malang dulunya merupakan sekolah Hoogero Burger School dan Algemeene Middelbare School. 

Gedung ini dirancang oleh Ir. W. Lemei dari Landsgebouwendienstb dan menjadi bagian dari sistem pendidikan kolonial.

Pada masa pendudukan Belanda, sekolah ini digunakan sebagai Voorberindend Hoger Ondewijs atau pendidikan persiapan tingkat tinggi. Tokoh pendidikan Sardjoe Atmodjo sempat mendirikan sekolah bagi masyarakat pribumi, tetapi kegiatan itu dibubarkan karena tidak mengantongi izin.

Sekolah ini kemudian berubah nama menjadi SMT Persatoean Goeroe Indonesia pada tahun 1932 dan sempat berpindah lokasi beberapa kali. 

Pada tanggal 17 April 1950, sekolah ini akhirnya diresmikan sebagai SMA Negeri oleh Pemerintah Republik Indonesia dengan G.B. Pasariboe sebagai kepala sekolah pertama. Hingga kini, bangunannya tetap menjadi ikon kawasan Tugu.

  1. Pertokoan Sarinah

Pertokoan Sarinah berada di kawasan yang dulunya merupakan Kantor Kabupaten Malang.

Tempat ini juga menjadi rumah dinas Raden Panji Weilasmorokoesemo sebelum ia diangkat sebagai Bupati Malang dan berganti nama menjadi Raden Toemenggoeng Notodiningrat.

Pada tahun 1947, gedung lama diratakan untuk kepentingan strategi perang gerilya. Setahun setelahnya, gedung baru dibangun dan menjadi pusat pertokoan pertama di Malang dengan nama Sarinah. 

Nama tersebut digagas Presiden Soekarno dan memiliki arti Abadi Masyarakat.

Kawasan Sarinah menjadi salah satu titik penting perjalanan kota menuju era modern. Meski fungsinya terus beradaptasi, nilai sejarahnya tetap melekat melalui cerita yang menyertai perkembangan area tersebut. (kdk)

Editor : A. Nugroho
#sejarah #balai kota malang #Peninggalan Kolonial #belanda #malang