RADAR MALANG – Kota Jombang dikenal luas sebagai “Kota Santri”, tempat lahir dan berkiprahnya banyak ulama besar yang berperan penting dalam sejarah Islam dan perjuangan bangsa Indonesia. Tidak hanya menjadi pusat pendidikan pesantren, Jombang juga menjadi tujuan utama bagi para peziarah yang ingin meneladani kehidupan para kiai dan tokoh nasional.
Wisata religi di Jombang bukan sekadar perjalanan spiritual, tetapi juga perjalanan sejarah. Setiap makam memiliki kisah mendalam yang berkaitan dengan perjuangan, pendidikan, hingga penyebaran ajaran Islam di Nusantara. Dari Gus Dur hingga Sayyid Sulaiman, jejak mereka meninggalkan warisan tak ternilai bagi umat dan bangsa.
Berikut deretan makam tokoh ulama besar yang menjadi destinasi religi populer di Kabupaten Jombang.
1. Makam KH Hasyim Asy’ari dan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur)
Kompleks makam Pondok Pesantren (Ponpes) Tebuireng di Desa Cukir, Kecamatan Diwek, menjadi salah satu tujuan utama peziarah dari berbagai daerah. Di sinilah bersemayam Hadratusy Syekh KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU) dan pencetus Resolusi Jihad yang berperan besar dalam perjuangan kemerdekaan.
Selain beliau, di kompleks ini juga dimakamkan KH A Wahid Hasyim, Menteri Agama pertama RI sekaligus perumus sila pertama Pancasila “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Tidak jauh dari sana, bersemayam pula putranya, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Presiden RI ke-4 yang dikenal sebagai tokoh pluralisme dan demokrasi.
Sejak wafatnya Gus Dur pada tahun 2009, kompleks makam Tebuireng semakin ramai diziarahi dan menjadi ikon wisata religi Jombang. Di kawasan ini juga berdiri Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asy’ari yang menampilkan sejarah perjuangan para ulama.
2. Makam KH Bisri Syansuri
Tokoh ulama besar sekaligus pendiri Pondok Pesantren Mambaul Ma’arif Denanyar ini dikenal sebagai pelopor pendidikan santri putri pertama di Indonesia. KH Bisri Syansuri merupakan besan sekaligus murid dari KH Hasyim Asy’ari, dan juga kakek dari Gus Dur melalui garis ibu.
Selain berperan penting dalam perkembangan NU, KH Bisri juga dikenal aktif mendirikan rumah yatim dan layanan kesehatan bagi masyarakat. Makam beliau berada di kompleks Ponpes Mambaul Ma’arif Denanyar, Kecamatan Jombang, dan menjadi salah satu lokasi ziarah penting di kota ini.
3. Makam KH Abdul Wahab Chasbullah
KH Abdul Wahab Chasbullah adalah tokoh ulama kharismatik yang bersama KH Hasyim Asy’ari mendirikan Nahdlatul Ulama. Dikenal cerdas dan berpikiran maju, beliau juga menggubah lagu perjuangan “Ya Lal Wathon” yang hingga kini menjadi lagu kebanggaan warga NU.
Sebagai pahlawan nasional yang diresmikan pada 2014, makam KH Wahab Chasbullah terletak di Desa Tambakrejo, tak jauh dari Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang. Makam ini menjadi salah satu destinasi religi yang ramai setiap akhir pekan.
4. Makam KH Tamim Irsyad dan KH M Romli Tamim
KH Tamim Irsyad dikenal sebagai pendiri Ponpes Darul Ulum di Rejoso, Peterongan, yang kini menjadi salah satu pesantren terbesar di Jombang. Putranya, KH M Romli Tamim, merupakan ahli ilmu tauhid dan fiqih yang juga menjadi mursyid Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah.
KH Romli Tamim juga dikenal sebagai penyusun teks Istigasah yang biasa dibaca dalam tradisi NU. Makam keduanya, bersama para pengasuh pesantren dari generasi ke generasi, berada di kompleks Ponpes Darul Ulum Rejoso.
5. Makam Sayyid Sulaiman
Sayyid Sulaiman merupakan keturunan ulama Yaman dari marga Basyaiban dan dikenal sebagai pendiri Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan. Dalam perjalanannya dari Solo menuju Pasuruan, beliau wafat di Desa Betek, Kecamatan Mojoagung, Jombang, dan dimakamkan di sana.
Makam Sayyid Sulaiman kini ramai dikunjungi peziarah karena diyakini memiliki nilai sejarah tinggi, mengingat beliau masih memiliki hubungan dengan Sunan Gunung Jati dari Cirebon.
6. Makam Sayyid Ismail
Makam Sayyid Ismail berada di area pemakaman umum Desa Janti, Kecamatan Jogoroto. Namanya mulai dikenal luas setelah KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur berziarah ke sana pada awal 2000-an.
Dalam sejumlah catatan, Sayyid Ismail disebut sebagai pengawal Putri Campa, istri Prabu Brawijaya V sekaligus ibu dari Raden Fatah, pendiri Kesultanan Demak. Hingga kini, makamnya menjadi salah satu titik ziarah spiritual di kawasan selatan Jombang.
Menziarahi makam para ulama di Jombang bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan juga meneladani nilai perjuangan, ilmu, dan keikhlasan mereka. Deretan makam ini menjadi bukti bahwa Jombang bukan hanya kota santri, melainkan juga pusat lahirnya tokoh-tokoh besar yang mewarnai perjalanan bangsa dan agama. (id)