MALANG, RADAR MALANG - Siapa sangka di balik gurihnya mendol khas Malang, terdapat filosofi "anti-mubazir" yang lahir dari kearifan lokal masyarakat zaman dulu dalam menyulap tempe hampir busuk menjadi lauk legendaris yang kini digemari lintas generasi.
Sejarah di Balik Kelezatan Mendol yang Autentik
Lahirnya mendol didasari oleh keinginan mulia untuk tidak membuang makanan secara sia-sia. Masyarakat Malang tempo dulu memanfaatkan tempe yang sudah terlalu matang atau hampir busuk biasa disebut tempe semangit untuk diolah kembali menjadi hidangan baru yang justru sangat menggugah selera.
Siasat Bumbu Kuat Penjinak Aroma Tempe Semangit
Agar aroma menyengat dari tempe yang hampir busuk tersebut bisa tersamarkan, para sesepuh melengkapinya dengan racikan bumbu dapur yang kuat. Adonan tempe dihancurkan lalu dicampur bumbu halus yang didominasi oleh kencur, daun jeruk purut, bawang, ketumbar, dan cabai. Sentuhan kencur dan jeruk purut yang pekat inilah yang memberikan aroma segar khas mendol.
Dari Lauk Penyelamat Kini Menjadi Warisan Kuliner
Adonan yang telah dibumbui kemudian dikepal dengan tangan hingga padat sebelum digoreng hingga bagian luarnya kering kecokelatan. Berawal dari sekadar lauk penyelamat agar bahan pangan tidak terbuang mubazir, kini mendol telah bertransformasi menjadi salah satu warisan kuliner khas Malang paling ikonik yang dicari para wisatawan.
Baca Juga: 5 Fakta Unik Mendol Malang yang Jarang Diketahui Wisatawan, Kuliner Legendaris Kaya Manfaat!
Editor : Aditya Novrian