Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Petani Waswas Panen Tebu Merosot

I
Penulis: Indah Mei Yunita❯
PERTANIAN: Petani memanen tebu di musim kemarau. Banyak yang resah lantaran produktivitas menurun.
PERTANIAN: Petani memanen tebu di musim kemarau. Banyak yang resah lantaran produktivitas menurun.

Advertisement

KEPANJEN, RADAR MALANG – Petani tebu mulai waswas menghadapi musim kemarau. Mereka khawatir hasil panen menurun di musim kemarau. Keresahan tersebut di alami petani tebu asal Desa Sukowilangun, Kalipare. Minimnya curah hujan akan berdampak pada penurunan produktivitas tebu di wilayah yang didominasi lahan tadah hujan.

Imam Safi’i, salah satu petani tebu asal Sukowilangun mengatakan, dari sembilan desa di Kecamatan Kalipare, ada tiga desa yang paling terdampak. Yakni Desa Arjosari, Putukrejo, dan Tambakrejo. “Sebelumnya, kelompok tani tersebut mendapatkan bantuan benih dan langsung ditanam pada Februari lalu,” ujarnya beberapa waktu lalu.

Advertisement

Dia melanjutkan, pada waktu itu, curah hujan masih bagus. Namun setelah ketinggian tanaman tebu mencapai 1 meter pada Mei lalu, hujan sudah semakin jarang. Akibat kurang pengairan, pertumbuhan tidak maksimal.

Selain itu, juga bisa mem pengaruhi hasil produksi atau panen.

Biasanya dalam satu hektare lahan menghasilkan 100 ton, turun 35 persen akibat kekurangan air. Sehingga hanya menghasilkan 6570 ton per hektare. ”Itu karena kadar air dalam tebu otomatis berkurang,” kata dia.

Advertisement

Baca Juga: Petani Tembakau Keluhkan Cuaca

Demi menyelamatkan tanaman tebu, dia melanjutkan, para petani terpaksa melakukan pengairan secara manual. Mereka terpaksa membeli air dalam jumlah banyak untuk mengairi lahannya.

“Untuk satu hektare lahan itu, biasanya petani menghabiskan setidaknya 4 sampai 5 tangki air. Per tangki harganya Rp 400.000,” katanya. ”Kalau menghabiskan lima tangki saja bisa menembus Rp 2.000.000,” tambah Imam yang juga Bendahara Kelompok Tani (Poktan) Suka Karya Desa Sukowilangun itu.

Terpisah, Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Malang Avicenna Medisic Sani Putera menambahkan, kondisi irigasi di Kabupaten Malang masih cukup baik. Namun dia berharap pada puncak kemarau sekitar Agustus ini tidak sampai kekeringan. “Sebagai antisipasi, kami menyediakan cadangan pompa yang difasilitasi kodim. Alatnya ada di masing-masing kecamatan,” ucapnya.

Totalnya kurang lebih ada 85 unit pompa air disediakan. Petani yang kesulitan air bisa mengajukan ke masing-masing desa melalui babinsa. “Bagi petani atau kelompok tani yang mengalami kekeringan, bisa melapor ke Babinsa atau ke penyuluh pertanian. Nanti itu kolaborasi,” pungkasnya.(yun/dan)

Advertisement
Editor : A. Nugroho
Sumber : Radar Malang

Artikel Terkait

Bersama BRI, Petani Kopi Asal Batang Sajikan Racikan Produk hingga Jangkau Pasar Dunia 

Bersama BRI, Petani Kopi Asal Batang Sajikan Racikan Produk hingga Jangkau Pasar Dunia 

Secangkir kopi nyatanya membawa Ika Yuanita pada perjalanan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Berangkat dari kepeduliannya terhadap petani kopi di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, ia pun berusaha merintis PT

80 Persen Petani Bawang Merah di Torongrejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu Pilih Panen Dini

80 Persen Petani Bawang Merah di Torongrejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu Pilih Panen Dini

80% petani bawang merah di Torongrejo beralih ke panen dini (40–50 hari) karena harga lebih stabil, biaya produksi lebih rendah, permintaan pasar tinggi, serta risiko kerugian akibat fluktuasi harga lebih kecil.

Petani Tebu Tergerus Zaman Mengancam Program Swasembada Gula

Petani Tebu Tergerus Zaman Mengancam Program Swasembada Gula

Ironi menyelimuti sentra tebu Bumi Kanjuruhan. Di tengah produksi tebu yang meningkat dari tahun ke tahun, justru petani kian tergerus zaman. Itu karena generasi muda enggan turun ke ladang. Akibatnya, regenerasi mandek

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer