RADAR MALANG - Kota Malang diguncang kabar duka beruntun sepanjang April 2025. Tiga kasus dugaan bunuh diri terjadi hanya dalam kurun waktu yang berdekatan. Mulai dari penghuni kos, mahasiswa, hingga petugas kebersihan, semuanya meninggalkan jejak pilu yang seharusnya membuka mata kita tentang betapa gentingnya isu kesehatan mental di sekitar kita.
Kasus yang baru saja terjadi yaitu pada tanggal 24 April 2025 tepat hari Kamis kemarin, di sebuah kos di Jalan Laksda Adi Sucipto, Kecamatan Blimbing. Seorang penghuni, RH (23), ditemukan meninggal dunia di dalam kamar dengan dugaan bunuh diri menggunakan racun anti-nyamuk. Sebelumnya, korban sempat hendak meloncat dari lantai tiga, namun berhasil dicegah warga. Sayangnya, upaya itu tidak cukup untuk menyelamatkannya.
Baca Juga: Penembakan Tragis di Montenegro, Pelaku Tewas Setelah Upaya Bunuh Diri
Sebelum kasus tersebut, masih di bulan yang sama, pada tanggal 10 April 2025, seorang mahasiswa asal Jakarta Timur, BGS (20), ditemukan tewas di bawah jembatan Tunggulmas, Lowokwaru. Dugaan kuat, ia nekat mengakhiri hidup dengan melompat dari ketinggian. Belum diketahui motif pasti di balik keputusannya, namun keluarga mengaku tidak menduga hal ini akan terjadi.
Tragedi lain yang terjadi sebelum itu, pada awal tahun tepatnya 17 Januari 2025 di Rumah Sakit Universitas Brawijaya (RSUB). AO (33), seorang cleaning service yang akan menikah seminggu lagi, ditemukan tewas gantung diri di basement RSUB. Fakta yang terungkap lebih memilukan: AO sempat menyampaikan keinginan mengakhiri hidupnya kepada keluarganya jauh hari sebelum kejadian.
Baca Juga: Mahasiswa Semester 10 di Sidoarjo Tewas Gantung Diri
Rentetan kasus ini menegaskan bahwa bunuh diri bukan hanya tentang tindakan sesaat, tetapi sering kali merupakan puncak dari tekanan batin yang terakumulasi lama. Sayangnya, banyak orang di sekitar yang gagal menangkap sinyal-sinyal bahaya tersebut.
Mari Lebih Peduli & Kenali Tanda-Tanda Bahaya Bunuh Diri!
Menurut laporan WHO, Indonesia mencatat rata-rata 24 kematian akibat bunuh diri per 100.000 jiwa. Ada beberapa tanda umum yang seharusnya menjadi alarm bagi kita semua:
-
Perasaan putus asa dan menganggap masa depan suram.
-
Mood swing ekstrem: tampak bahagia sesaat lalu depresi mendalam.
-
Gangguan tidur seperti insomnia berkepanjangan.
-
Perubahan kepribadian: menjadi lebih tertutup, malas merawat diri, atau mendadak berubah drastis.
-
Isolasi sosial: menarik diri dari keluarga dan teman.
-
Self-harm: perilaku menyakiti diri sendiri seperti konsumsi alkohol berlebih atau tindakan berisiko tinggi.
-
Ucapan perpisahan: kalimat-kalimat seperti “Aku capek hidup” atau “Mungkin lebih baik aku tidak ada” harus sangat diwaspadai.
Mengenali tanda-tanda ini menjadi langkah pertama untuk membantu orang-orang di sekitar kita. Jika Anda melihat seseorang menunjukkan tanda-tanda tersebut, jangan ragu untuk mendekatinya, mendengarkan tanpa menghakimi, dan mengarahkan untuk mencari bantuan profesional seperti psikolog atau psikiater.
Baca Juga: Depresi, Pemuda Kalipare Malang Gantung Diri
Kesadaran dan kepedulian kita bisa menjadi penyelamat nyawa. Jangan remehkan satu sapaan sederhana, satu perhatian kecil, atau tawaran untuk menemani mereka ke tenaga ahli. Terkadang, itulah satu hal yang membuat mereka tetap bertahan.
Jika Anda atau orang yang Anda kenal mengalami pikiran untuk bunuh diri, segera hubungi layanan kesehatan mental terdekat, konsultasikan dengan tenaga profesional, atau hubungi layanan darurat. Kita tidak pernah tahu, perhatian kita hari ini bisa menjadi alasan seseorang untuk bertahan esok hari. (my)
Editor : A. Nugroho