KEPANJEN – Menjelang musim panen tembakau, para petani waswas. Mereka dibayang-bayangi ancaman penurunan produksi lantaran cuaca tidak menentu. Hal itu disampaikan oleh Kepala Bidang Hortikultura Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Malang Kholida Masruroh kemarin.
Dia mengatakan, luas lahan tembakau di Bumi Kanjuruhan mencapai 962 hektare. Lokasinya tersebar di 32 kecamatan. “Tahun ini juga ada peningkatan 100 hektare lahan yang dipakai untuk tanam. Panen diperkirakan jatuh pada bulan September,” terang pejabat eselon III B Pemkab Malang itu.
Pada musim tanam 2024 lalu, total produksi tembakau mencapai 1.146,46 ton. Angka tersebut kemudian dijadikan target panen pada tahun ini. Pihaknya optimistis target tersebut dapat tercapai. Namun, dia mengungkap banyak keluhan dari petani. Pada musim panen September depan, petani takut gagal panen.
“Tembakau merupakan tanaman yang tidak mau banyak-banyak air. Oleh karena itu, petani dari 32 kecamatan itu sempat mengeluh,” ungkap Masruroh. Dia menambahkan, terlalu banyak air bisa menyebabkan masalah seperti busuk akar, layu, dan bahkan gagal panen. Sedangkan hujan turun dengan deras-derasnya antara April sampai Juni.
Hal tersebut tampak di salah satu petak kebun tembakau di Desa Ngebruk, Kecamatan Sumberpucung. Dalam pengamatan Jawa Pos Radar Kanjuruhan kemarin (16/8), banyak daun tembakau yang layu dan mengering terkena matahari, baik ukuran besar maupun masih kecil. Belasan tanaman juga sudah tidak memiliki daun walau batangnya masih kecil.
(biy/dan)
Editor : A. Nugroho