MALANG KOTA - Ekonomi Kota Malang kembali deflasi pada September lalu.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat deflasi mencapai 0,14 persen secara month to month (MtM).
Sebelumnya, pada Agustus lalu Kota Malang mengalami inflasi sebesar 0,04 persen.
Hal itu tentu jadi pertanyaan.
Sebab, daya beli masyarakat disinyalir menurun.
Terutama pada kelompok makanan, minuman dan tembakau kembali menjadi komoditas penyumban deflasi tertinggi.
Kepala BPS Kota Malang Umar Sjarifudin mengatakan, selama kurun waktu lima tahun terakhir, Kota Malang juga pernah mengalami deflasi pada bulan yang sama pada tahun 2020 dan 2021.
Penyebabnya sama, yakni penurunan harga kelompok makanan.
”Deflasi bulan September lebih dalam dibandingkan Jawa Timur dan Nasional yang sebesar 0,12 persen,” terang Umar.
Umar menambahkan, deflasi tersebut tidak berarti terdapat penurunan daya beli.
Karena di lapangan, kata Umar, daya beli tidak terlalu mencolok memengaruhi naik turun harga. Khususnya pada bahan makanan.
Terpisah, Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Malang Dedy Prasetyo menambahkan, daya beli masyarakat mungkin sedikit terganggu.
Namun BI sudah merespons gejolak daya beli tersebut dengan penurunan suku bunga acuan.
Sehingga diharapkan dapat meningkatkan konsumsi masyarakat. (dur/adn)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana