RADAR MALANG – Bulan Ramadan 2026 sebentar lagi kembali menyapa dengan membawa atmosfer spiritual yang kental. Dibalik itu, terdapat potensi besar bagi sektor ekonomi khususnya para pegiat ekonomi. Momentum ini ditandai dengan melonjaknya daya beli masyarakat secara drastis baik dari bahan pangan hingga takjil sebagai pelengkap menu berbuka puasa.
Hal ini akan menciptakan momentum strategis bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk meraih omzet berlipat ganda, mengingat pengeluaran masyarakat untuk konsumsi pangan dan sandang meningkat kurang lebih 30 persen dibanding bulan-bulan biasa. Ramadan bisa menjadi pintu gerbang bagi pelaku UMKM untuk “naik kelas” melalui 3 pilar utama:
Pertama, akselerasi digital. Menurut Laporan Ekonomi dan Keuangan Bank Syariah Indonesia yang diterbitkan 28 Januari 2026 lalu, menyatakan bahwa pelaku UMKM dituntut untuk beradaptasi dengan sistem pembayaran QRIS (non-tunai) dan pemasaran produk melalui live streaming untuk menggaet pasar Gen Z yang cenderung impulsif.
Kedua, standarisasi dan profesionalisme. Momentum ini menuntut UMKM untuk memperbaiki supply chain agar tidak terjadi kekosongan produk. Seasonal demand seperti bulan Ramadan ini melatih UMKM untuk memanajemen kualitas produk dengan tujuan membentuk fondasi kuat untuk bertransformasi menjadi usaha menengah.
Ketiga, adanya dukungan ekosistem yang kolaboratif. Selama Ramadan, banyak instansi pemerintah maupun swasta melakukan pemesanan kepada UMKM untuk dijadikan parsel lebaran. Hal ini menjadi kesempatan emas untuk UMKM memasuki jejaring relasi yang lebih luas.
Jika momentum Ramadan ini dimanfaatkan dengan baik, maka UMKM bisa mendapatkan profit besar dan pertumbuhan bisnis yang signifikan.
Penulis: Xeon Rhao Loudra Widadi
Editor : Aditya Novrian