ISKANDAR dan timnya tampil sebagai juara III di ajang Sayembara Arsitektur nomor 032 ini mengusung desain utama Lumaku Tanpa Tilas. Ada lima konsep yang diusung di koridor sepanjang 7,2 kilometer tersebut. Aksen Candi Singosari bernafaskan zero carbon disajikan arsitek asal Karawang itu.
“Kami fokus pada penyusunan desain yang ramah lingkungan dan zero carbon. Aksen Candi Singosari kami pakai juga di dalam desain. Lumaku Tanpa Tilas atau Melangkah Tanpa Jejak, menggambarkan Kepanjen maju mengikuti perkembangan zaman, tetapi dengan tetap tidak meninggalkan jejak karbon yang tinggi,” ujarnya.
Di titik satu, Iskandar mengambil bagian atas candi yang disebut swah loka. Bagian kepala mencerminkan gerbang pintu masuk Kepanjen yang menjadi identitas kebudayaan lokal. Kemudian, titik dua adalah Central Business District (CBD). Iskandar mengambil konsep bagian badan dari candi yaitu buah loka. Artinya, CBD menjadi penggerak perekonomian kawasan sekitar.
Titik ini juga mengambil konsep tari Topeng Malangan yang bersifat dinamis dan berwarna layaknya penari. Dengan harapan wajah baru ini semakin berwarna. Kemudian, di titik tiga masih mengambil inspirasi bagian badan candi. Yaitu titik masuk ke kawasan pemerintahan Kepanjen, Pendapa Panji.
Perlunya ada suatu pengingat atau penanda sejarah berdirinya Kabupaten Malang. Ini sekaligus sebagai penanda masuk ke kawasan kantor pemerintahan. Penanda mengambil hari jadi Kabupaten Malang yang dibalut budaya lokal. ”Ada 28 pilar yang menunjukkan tanggal kelahiran Kabupaten Malang pada 28 November 760,” jelas Iskandar. Selanjutnya di titik 4 merupakan zona perkantoran dan pelayanan publik. Lokasi ini mengambil bagian candi yang disebut bhur loka atau kaki. Bagian ini diartikan bagian ruang publik dari candi. Ini sesuai dengan titik 4 yang dijadikan sebagai sarana publik yang menunjang titik-titik utama lainnya.
Iskandar memakai konsep Pelataran Kuto. Desainnya dimaksudkan pada masyarakat Malang khususnya Kepanjen. “Di titik 4 menjadi ruang anak muda. Ada solar panel untuk menjadi tempat charger handphone anak nongkrong. Solar panel dipakai karena desain utama adalah zero carbon. Di situ juga ada barcode yang saat di-scan menunjukkan identitas sejarah Kabupaten Malang,” tutur Iskandar.
Di titik 5, Iskandar menyajikan konsep Jogo Rogo. Sesuai tema Stadion Kanjuruhan, kawasan ini menjadi tempat menjaga raga dengan beraktivitas seperti olahraga. Spot pedestrian dibuat meliuk-liuk seperti pemain sepak bola yang sedang menggiring bola. “Kami juga siapkan desain 1 pilar utama dan 10 pilar pendukung. Ini sebagai simbol pengingat korban tragedi Stadion Kanjuruhan 1 Oktober,” tutupnya.(fin/nay) Editor : Mardi Sampurno