Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Sumber Manggis Simpan Cerita Babat Alas Lereng Gunung Kawi

Fathoni Prakarsa Nanda • Selasa, 27 Februari 2024 | 18:00 WIB
DI BAWAH BATU: Edi Sutrisno menunjukkan titik mata air Sumber Manggis yang berada di Dusun Segelan, Desa Balesari, Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang.
DI BAWAH BATU: Edi Sutrisno menunjukkan titik mata air Sumber Manggis yang berada di Dusun Segelan, Desa Balesari, Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang.

Seperti namanya, Sumber Manggis diambil dari nama pohon di dekat mata air tersebut. Kemurnian dan kesegaran air dari sumber tersebut pernah dipercaya bisa membuat awet muda.

NABILA AMELIA

LERENG selatan Gunung Kawi menyimpan sedikitnya 28 sumber mata air. 

Sebagian diantaranya disakralkan oleh masyarakat. 

Termasuk Sumber Manggis yang terletak di Dusun Segelan, Desa Balesari, Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang. 

Jaraknya sekitar 26 kilometer dari pusat Kota Malang. 

Untuk menuju lokasi mata air itu bisa melalui beberapa rute. 

Yang terdekat lewat Jalan Raya Wagir. 

Papan petunjuk bertuliskan Sumber Manggis baru bisa dijumpai di Dusun Segelan. 

Di dekat mata air terdapat sekitar 10 rumah penduduk. 

Ada juga beberapa warung yang menjual kelapa muda, minuman, dan makanan ringan. 

Untuk menuju titik mata air, pengunjung harus berjalan kaki menyeberangi jembatan berukuran lebar satu meter. 

Dilanjutkan dengan menapaki anak tangga menurun di dekat toilet. 

Dari tempat itu sudah bisa terlihat mata air yang berada di balik pagar besi. 

Debit air yang keluar dari Sumber Manggis memang tidak terlalu besar. 

Hanya sekitar enam liter per detik (berdasar Peraturan Bupati Malang nomor 27 Tahun 2020 tentang Rencana Induk Penyediaan Air Minum 2020 – 2024). 

Karena itu, tidak terlihat semburan air sama sekali. 

Hanya seperti penampungan air yang dikelilingi tembok dan batu dengan luas sekitar 1 meter persegi. 

Di pinggir mata air terdapat anglo dari tanah liat untuk menaruh dupa. 

Kemudian di bagian tengah sumber ada pipa kecil. 

Sementara itu, Pohon Manggis yang diyakini menjadi asal usul nama mata air berada di sisi utara. 

Pohon itu dikelilingi tembok sejak 1972. 

Dibuat oleh pengusaha ban mobil asal Surabaya yang akrab disapa Ko Sung atau Pak Tedja dan pengusaha ternama kala itu, Liem Sioe Liong. 

Ada beberapa versi mengenai asal-usul Sumber Manggis. 

Pertama, mata air tersebut dipercaya muncul setelah seorang pria bernama Raden Mas Iman Soedjono memukul sebuah batu besar. 

Tiba-tiba dari bagian bawah batu muncul air jernih yang tidak kering hingga sekarang. 

Raden Mas Iman Soedjono dalam kisah itu merupakan keturunan Sri Sultan Hamengkubuwono I. 

Dia menjadi murid Eyang Djoego yang memiliki silsilah dari Sri Susuhunan Pakubuwono. 

Selain itu, Raden Mas Iman Soedjono juga menjadi penasihat spiritual Pangeran Diponegoro yang melarikan diri ke wilayah Timur setelah ditangkap Belanda pada 1830. 

Memasuki tahun 1870-an, Raden Mas Iman Soedjono diminta melakukan babat alas di lereng selatan Gunung Kawi. 

Tepatnya di Desa Wonosari. 

Dalam perjalanan melakukan babat alas, Raden Mas Iman Soedjono sempat singgah di Desa Balesari. 

Tujuannya mencari air agar bisa berwudhu. 

Lalu dia memukul sebuah batu menggunakan tongkat. 

Dari balik batu itu tiba-tiba muncul air yang sangat jernih. 

Selain untuk berwudhu, air itu juga digunakan Raden Mas Iman Soedjono untuk menanam benih manggis. 

Benih manggis yang ditanam itu tumbuh besar dan kini berbentuk pohon setinggi 20 meter. 

Setiap tahun selalu berbuah. 

Namun beberapa bagian pohonnya sudah mulai keropos. 

Raden Mas Iman Soedjono meninggal dunia Pada 1876. 

Setelah itu Sumber Manggis sempat dirawat beberapa juru kunci. 

Mulai dari Sumo Saimin, Sum, Satemo, Slamet, dan kini Edi Sutrisno. 

”Sumber Manggis tidak hanya menjadi tempat Raden Mas Iman Soedjono bersuci. 

Tapi juga digunakan Eyang Djoego untuk mandi maupun bersuci sebelum shalat dan berdoa,” terang Edi. 

Dia menjelaskan versi yang sedikit berbeda tentang Sumber Manggis. 

Menurutnya, di lokasi tersebut lebih dulu ada aliran sungai yang keruh. 

Baru setelah muncul sumber air dari balik batu, air itu menjadi jernih dan bisa digunakan untuk berwudhu. 

Sedangkan pohon manggis yang ada sampai saat ini diyakini berasal dari tongkat kayu milik Raden Mas Iman Soedjono. 

Buah dari pohon manggis itu kerap diambil oleh masyarakat, terutama peziarah. 

Biasanya mereka menunggu sampai manggis jatuh. 

Bukan untuk dimakan, melainkan disimpan karena dipercaya terdapat benda tertentu di dalam buah manggis. 

Di kalangan masyarakat juga muncul kepercayaan bahwa air dari Sumber Manggis memiliki banyak manfaat. 

Tak hanya untuk air minum, tapi juga membersihkan diri dalam makna yang luas. 

”Dulu tempat ini dikenal sebagai pemandian yang bisa membantu awet muda dan menyembuhkan beberapa penyakit,” terang Edi. 

Namun Edi tetap meyakini bahwa Sumber Manggis hanya sebagai perantara. 

Doa tetap harus dipanjatkan kepada Allah SWT. 

”Kalau sering berdoa atau mengirimkan doa ke leluhur, mereka akan ikut mendoakan,” imbuh dia. 

Sekretaris Desa Balesari Muhibbulloh mengatakan, sejauh ini pemanfaatan Sumber Manggis hanya untuk masyarakat di sekitar Dusun Segelan dan warga yang tinggal di perbatasan Kecamatan Ngajum dan Kecamatan Wonosari. 

Sebab, aliran airnya tidak besar. 

”Peziarah yang ingin ke Pesarean Gunung Kawi juga kerap memanfaatkan mata air itu,” terangnya. 

Kandungan air dari Sumber Manggis pernah diteliti Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Islam Raden Rahmat Malang (Unira). 

Menurut Kepala Laboratorium Dasar Agroteknologi Unira Zainal Abidin, dalam uji fisika dan kimia, air di Sumber Manggis masih bersih dan normal. 

Indikatornya dari baku mutu hingga keberadaan hewan seperti capung. 

Agar tetap terawat, Zainal menyarankan kepada masyarakat untuk memperhatikan aspek pembuangan limbah. 

Sebab, di sana ada permukiman masyarakat dan kebanyakan dari mereka merupakan peternak sapi. 

”Kalau tidak dijaga bisa tercemar bakteri e-coli dan coliform. Kalau sampai ada pencemaran bakteri yang melebihi ambang batas, air jadi tidak bisa dikonsumsi,” tegasnya. (*/fat)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#Sumber Manggis #Kabupaten Malang