Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Produsen Tempe Bungkil Beralih ke Tempe Kacang

Mahmudan • Jumat, 14 Februari 2025 | 01:00 WIB
GANTI BAHAN BAKU: Murtini, salah satu produsen tempe kacang di Desa Sekarpuro, Pakis menunjukkan bungkil yang sedang difermentasi, Selasa (11/2). (DARMONO/RADAR MALANG)
GANTI BAHAN BAKU: Murtini, salah satu produsen tempe kacang di Desa Sekarpuro, Pakis menunjukkan bungkil yang sedang difermentasi, Selasa (11/2). (DARMONO/RADAR MALANG)

PAKIS – Melonjaknya harga kedelai impor berdampak terhadap harga bungkil.

Untuk diketahui, bungkil merupakan ampas dari ekstrak minyak kedelai.

Namun pembuatannya memerlukan sentuhan teknologi, seperti pemerasan atau pelarutan menggunakan kimia, sehingga harganya mahal.

Murtini, salah satu produsen tempe bungkil di Desa Sekarpuro, Kecamatan Pakis mengatakan, kenaikan harga kedelai impor membuat dia beralih bahan baku.

Dari yang sebelumnya bungkil menjadi kacang.

“Harga bungkil sudah mencapai Rp 25 ribu per kilogram. Jadi, kami ganti dengan kacang yang mungkin harganya sekitar Rp 12 ribu per kilogram,” kata Murtini.

Selain itu, kandungan gizi dalam tempe kacang lebih tinggi.

Sebab, sebagian nutrisi bungkil sudah hilang saat pemrosesan menjadi bungkil, sehingga proteinnya lebih rendah.

Sementara tempe kacang memiliki protein tinggi dan lemak sehat, serta mengandung serat dan mineral dari kacang.

Rasanya pun lebih gurih dibandingkan dengan tempe bungkil.

Karena itu, peminat tempe kacang pun lebih tinggi di pasaran.

“Per harinya, saya menjual 60-70 nampan tempe kacang di Pasar Madyopuro, Kota Malang,” ujar perempuan berusia 60 tahun itu.

Per nampan dia dijual seharga Rp 15 ribu ke penjual sayur keliling.

Sehingga omzet per harinya mencapai Rp 900 ribu sampai Rp 1,05 juta.

Dia menjelaskan, tempe tersebut dibuat dari 40 kilogram kacang.

Setelah dibersihkan, kacang direbus dan direndam selama 12-24 jam untuk membantu fermentasi, kemudian ditiriskan.

Begitu kering, kacang ditata di nampan dengan ketebalan sekitar 2-3 sentimeter dan diberi ragi secukupnya.

“Matangnya bisa 1-2 hari tergantung banyaknya ragi yang diberikan,” kata warga Dusun Sekaran itu.

Saat ini, tempe kacang tersebut dijadikan produk unggulan asli Desa Sekarpuro.

Warga di desa tersebut banyak yang memproduksinya dan sudah memiliki pasar sendiri.

Seperti Murtini yang hampir satu keluarga memiliki rumah produksi tempe kacang. (yun/dan)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#tempe kacang #produsen tempe #tempe bungkil #kedelai impor #tempe #Kedelai Impor Mahal