Hasil Ekspor Kopi, Cengkih, Rokok, Udang, dan Tekstil
KEPANJEN – Puluhan pelaku usaha di Bumi Kanjuruhan rutin mengekspor produknya ke berbagai negara.
Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Malang mengungkap ada 80 badan usaha yang berhasil ekspor.
Dari ekspor tersebut mampu menyumbang devisa USD 250 juta sampai USD 300 juta atau Rp 4,2 triliun sampai Rp 5,04 triliun per tahun.
Devisa merupakan alat pembayaran luar negeri yang bisa ditukarkan dengan uang asing.
Bisa berbentuk emas, surat berharga, atau valuta asing yang tercatat di bank sentral.
Kepala Bidang Perdagangan Disperindag Kabupaten Malang Kamilin memaparkan, ada 41 komoditas dari 80 pelaku usaha tersebut.
Di antaranya komoditas rokok, kopi, mebel, kertas rokok, plywood, alkohol, udang, tekstil, cengkih dan tembakau, serta susu.
“Jika ditotal, nilai ekspornya pada 2024 lalu sekitar 460,13 juta USD (setara Rp 7,73 triliun dengan kurs Rp 16.800),” ujar Kamilin kemarin.
Dengan demikian, dia melanjutkan, devisa yang diterima lebih rendah dibanding nilai ekspor.
Menurutnya hal itu wajar, karena produk yang diekspor tidak termasuk sektor strategis, seperti pertambangan dan migas.
Setiap triwulan, dia mengatakan, rata-rata ekspor dari Kabupaten Malang mencapai 45-50 ton untuk masing-masing komoditas.
Sepanjang 2024 lalu misalnya mengekspor 52.586 ton.
Hingga kini sasaran ekspor paling utama masih di sekitar Asia dan Eropa.
Di antaranya Armenia, Bangladesh, Mesir, Prancis, Georgia, Hongkong, India, Irak, Italia, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Taiwan, Pakistan, Singapura, Uni Emirat Arab (UEA), Inggris, Amerika, Filipina, Afghanistan, dan Pakistan.
Sebagai contoh, ekspor keripik singkong oleh PT Airafood Sejahtera Bersama mencapai 1 kontainer dengan berat 1.416 kilogram.
Nilai ekspornya menembus Rp 52,39 juta.
Makanan ringan tersebut dikirim ke Korea Selatan pada Agustus 2024 lalu.
Pejabat eselon III B Pemkab Malang itu mengatakan, disperindag akan terus berupaya meningkatkan ekspor dari Kabupaten Malang.
Tujuannya agar dapat menyumbang devisa lebih besar lagi.
Salah satunya melalui penguatan pelaku usaha, khususnya bagi yang masih skala kecil seperti Industri Kecil Menengah (IKM).
“Mereka kami fasilitasi dengan pembinaan dan pengembangan produk unggulan,” kata Kamilin. (yun/dan)
Editor : A. Nugroho