DAU – Rute bus Trans Jatim yang akan mengaspal di Malang raya sudah ditentukan. Itu setelah dinas perhubungan (dishub) kabupaten malang mengikuti rapat finalisasi bersama Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim di Hotel Harris, Selasa lalu (4/11).
Start dari terminal Hamid Rusdi (Kota Malang) menuju Kota Batu, Kabupaten Malang kebagian 14 perhentian. Tiga di antaranya merupakan halte berbentuk shelter.
Kepala Bidang Angkutan Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Malang Tri Hermantoro mengatakan, 14 titik perhentian itu berada di dua jalur, yakni Malang-Batu dan Batu-Malang.
“Bentuknya tiga berupa shelter, sisanya berupa rambu bus stop,” ujar Hermantoro kemarin. Area Bumi Kanjuruhan yang dilintasi adalah Kecamatan Dau. Yakni meliputi Desa Mulyoagung, Landungsari, dan Sumbersekar.
Untuk perhentian di jalur Malang-Batu ialah rambu di depan Hotel Radho, Sengkaling, depan Gereja GKJW Jemaat Sengkaling, shelter depan SDN 2 Mulyoagung, rambu depan Cuci Mobil-Motor Semanding 71 (Sumbersekar), rambu depan Kantor Desa Sumbersekar, rambu depan Jalan Makam di dekat Villa Podo Rukun, dan rambu di Kampung Dokar Banjar, Desa Sumbersekar.
Kemudian rute Batu-Malang, perhentian ada di rambu sebelah agen LPG Kampung Dokar Banjar (Sumbersekar), rambu depan Villa Podo Rukun, rambu depan Mixue Sumbersekar, rambu di Simpang 4 Semanding, rambu simpang 3 SDN 2 Mulyoagung, shelter depan KUD Dau, dan shelter depan Taman Wisata Sengkaling.
Untuk dua arah itu sama-sama masuk ke Terminal Landungsari, tepatnya di pertengahan antara jalur MPU dan bus AKDP.
Tri mengatakan, total waktu perjalanan yang ditempuh dari Hamid Rusdi-Landungsari menuju Batu lewat Sumbersekar berkisar 2,5 jam. “Headway antara bus satu dengan lainnya sekitar 21 menit. Total yang dioperasikan 7 armada dari Hamid Rusdi, 7 dari Batu,” kata dia.
Terpisah, Kepala UPT Pengelolaan Prasarana Perhubungan (P3) Lalu Lintas Angkutan Jalan (LLAJ) Malang Dishub Provinsi Jatim M. Binsar Garchah Siregar mengatakan, banyaknya perhentian tidak akan memengaruhi lamanya perjalanan 2,5 jam tersebut.
“Kalau di rambu atau shelter ada penumpang baru berhenti, tidak ada ya jalan terus,” kata dia.
Bus medium dengan dek rendah itu juga tidak diperkenankan mangkal. Ketika masuk ke Landungsari sekalipun, aturannya tetap sama.
Disinggung soal kapan shelter perhentian dibangun, pihaknya belum dapat memastikan. “Pekerjaannya sesegera mungkin dan seharusnya cepat. Pokoknya sebelum rencana operasional tanggal 20 November depan,” kata dia.
Dia menjelaskan, shelter yang akan dibangun berbeda dengan yang sudah ada di jalur Sidoarjo-Surabaya-Gresik yang memiliki dek tinggi dan memakai kaca.
“Ini terbuka, tanpa kaca. Panjangnya 3 meter dan lebar 1 meter,” kata Binsar. Tapi, tetap dilengkapi kamera CCTV untuk keamanan penumpang. (biy/dan)
Editor : A. Nugroho