Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Kisah Tragis Erawati, Pekerja Migran Indonesia Asal Dampit yang Jadi Korban Kebakaran Apartemen di Hongkong

Mahmudan • Kamis, 4 Desember 2025 | 16:57 WIB
MASIH BERDUKA: Suyitno, 39, menunjukkan foto Erawati menggendong anaknya kemarin (3/12). Dia meninggal dalam kebakaran di apartemen Hongkong, tempatnya bekerja.
MASIH BERDUKA: Suyitno, 39, menunjukkan foto Erawati menggendong anaknya kemarin (3/12). Dia meninggal dalam kebakaran di apartemen Hongkong, tempatnya bekerja.

Sempat Video Call dengan Suami saat Kepulan Asap Memenuhi Kamar

SUASANA sunyi menyelimuti rumah sederhana keluarga Erawati di Jalan Demak, Kelurahan Dampit, Kecamatan Dampit kemarin (3/12). Tenda untuk tahlilan masih berdiri memenuhi gang selebar 2,5 meter. Dari balik kursi-kursi plastik yang tertata rapi, tampak Suyitno, 39, duduk termangu. Tatapannya sayu, menyimpan duka yang belum sempat ia benamkan.

Sejak kabar kebakaran hebat di Apartemen Wang Fuk Court, Tai Po, Hongkong pada Rabu (26/11) lalu, hari-hari Suyitno berubah menjadi penantian sekaligus penyangkalan. Istrinya, seorang pekerja migran Indonesia (PMI) yang sudah 13 tahun bolak-balik mengadu nasib ke negeri orang, menjadi salah satu korban dalam kejadian itu.

“Jenazahnya belum sampai. Kami masih menunggu kabar dari KJRI Hongkong,” ujarnya pelan. Erawati bekerja sebagai asisten rumah tangga (ART) di Hongkong sejak 2011 lalu. Sempat pulang pada 2018, kemudian pada 2023 berangkat lagi. Kepulangannya pada 2018 lalu karena menikah dengan Suyitno.

Setelah memiliki anak dan berusia dua tahun, dia berangkat lagi. Selama di sana, Erawati dua kali berganti majikan. Mulanya bekerja sebagai perawat orang tua. Karena majikannya meninggal pada 2018, dia pulang, bersamaan dengan putus kontrak.

Lalu 2023 kembali lagi ke Hongkong karena menantu dari majikan melahirkan. ”Mungkin sudah cocok dengan kinerja istri saya, makanya dipanggil lagi. Sampai-sampai anak majikannya itu menempel terus,” kenang Suyitno

Meski hubungan jarak jauh, komunikasi suami istri tersebut lancar. Erawati sering mengirim pesan melalui WhatsApp, sambil sesekali video call. Hingga 26 November lalu, ketika apartemen tempatnya bekerja dilalap si jago merah.

Ketika api kobaran api belum sampai kamarnya, Erawati masih sempat berkomunikasi dengan keluarga di Dampit. Hari itu, sekitar pukul 15.00, awal kebakaran terjadi. Kemudian pukul 19.00 waktu setempat, api mulai melalap tower tempat Erawati bekerja.

Saat itu Erawati sempat video call dengan Suyitno, mengabarkan bahwa asap sudah memasuki kamar lantai delapan, apartemen tempat ia bekerja. Suasana petang berubah penuh kepanikan dari penghuni apartemen.

“Saya sempat minta dia ambil kain basah untuk menutupi mukanya. Dia bilang airnya sudah mati, akhirnya pakai tisu basah. Dia waktu itu sambil menggendong bayinya itu,” cerita Suyitno sambil mengusap air mata, lalu dia berhenti sejenak lantaran tidak bisa melanjutkan perkataannya..

Di sela video call tersebut, Erawati sempat mencari Doni, anaknya. “Dia bilang ke Doni, mungkin ini terakhir kali melihatmu Nak,” kata Suyitno menirukan ucapan Erawati kepada anaknya. ”Lalu minta maaf ke Doni dan saya. Dia bilang sudah tidak kuat,” kenang dia.

Setelah 30 menit telepon video berlangsung, sambungan dengan Erawati terputus.  Erawati terkapar terkena asap, sambil menggendong bayi majikannya itu. Ia terus menelepon Erawati sampai dua hari setelah kejadian.

Setelah kejadian tersebut, Suyitno mendapat kabar dari media sosial (medsos) bahwa istrinya meninggal. Namun dia berusaha menyangkal. Hatinya masih berharap kabar tersebut keliru dan istrinya masih hidup.

Sampai pada akhirnya pada 29 November lalu, dia mendapat kabar dari konsulat jenderal republik Indonesia (KJRI) di Hongkong.

“KJRI menelepon saya, menyampaikan bahwa ibu Erawati meninggal dunia dalam perawatan di rumah sakit. Tidak ada luka di tubuhnya. Bersih. Sementara bayi anak majikan yang digendong hanya kritis. Kabarnya sekarang sudah membaik,” kata Suyitno.

Erawati meninggal, namun dia berhasil menyelamatkan anak majikan. “Rencana mau dimakamkan di TPU dekat sini saja,” pungkas Suyitno. (*/dan)

Editor : A. Nugroho
#PMI #kjri #malang #art