
MALANG KOTA, RADAR MALANG – Problem kekurangan dokter terjadi cukup merata. Khususnya di fasilitas kesehatan (faskes) milik pemerintah daerah.
Seperti disampaikan Direktur RSUD Kota Malang dr Rina Istarowati. Dia membenarkan bahwa pihaknya masih membutuhkan tambahan puluhan dokter. Rina menuturkan, selama ini pemenuhan jumlah dokter dilakukan secara bertahap.
”Contoh yang sedang kami butuhkan adalah dokter spesialis bedah dan dokter spesialis ortopedi,” tutur Rina. Dalam menjaring dokter, pihaknya tidak hanya menerima lulusan dari kampus di Kota Malang. Namun juga dari luar Kota Malang.
Kondisi yang berbeda terlihat di RSUD dr Saiful Anwar (RSSA). Kepala Bidang Pelayanan Medik RSSA Dr dr I Wayan Agung Indrawan SpOG (K) menjelaskan, saat ini kebutuhan dokter di RSSA difokuskan untuk mengganti dokter yang pensiun. ”Jumlah pastinya saya tidak hafal,” kata dokter yang akrab disapa Iwa tersebut.
Di luar kebutuhan untuk mengisi posisi dokter yang pensiun, ada pula kebutuhan dokter lain yang belum terisi. ”Misalnya saja yang urgent itu dokter spesialis nuklir dan dokter spesialis gizi klinik,” ungkap Iwa.
Terkait dengan mekanisme rekrutmen, sebagai rumah sakit yang berada di bawah naungan Pemprov Jatim, mereka tidak bisa melakukannya secara mandiri.
Melainkan harus dilakukan lewat seleksi nasional dengan ujian yang diselenggarakan Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Provinsi Jatim.
Di tempat lain, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Malang Raya dr Sasmojo Widito SpJP Subsp KI (K) FIHA FAsCC FAPSIC FSCAI menyampaikan bahwa persebaran dokter di Indonesia perlu mengikuti global pattern. Selain itu juga sesuai dengan standar internasional. Termasuk di Kota Malang.
”Layanan kesehatan yang dibutuhkan masyarakat harus ada dari tingkat promotif, preventif, kuratif, sampai rehabilitatif,” tegas Sasmojo. Beberapa dokter yang dibutuhkan seperti dokter dengan konsentrasi di bidang kesehatan masyarakat, keluarga, dan spesialisasi klinis.
Sasmojo melihat, di era BPJS Kesehatan, kebutuhan dokter sudah terdistribusi dengan baik. Terutama di daerah besar seperti Malang Raya. Sasmojo memberi contoh, di Kota Malang, pada Januari sampai Oktober tahun 2025, tercatat ada 13 kematian akibat DBD.



