Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Kesalahan Nomor 1 Orang Tua yang Remajanya Terjebak Pergaulan Bebas, Tidak Beri Pengetahuan Kesehatan Reproduksi, Catat 5 Poin Penting Pegangan Ortu

Yudistira Satya Wira Wicaksana • Rabu, 24 April 2024 | 18:22 WIB
Ilustrasi remaja depresi karena perasaan bersalah usai terjebak pergaulan bebas
Ilustrasi remaja depresi karena perasaan bersalah usai terjebak pergaulan bebas

KEKHAWATIRAN orang tua hari-hari ini adalah anaknya yang sudah remaja terjebak pergaulan bebas dan risiko penyakit kelamin.

Jurnal penelitian Putri Ramadanti Setiawati,Tyas Aisyah Putri, dan Khoiriyah Isni dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta mendapati bahwa informasi tentang kesehatan reproduksi bisa meningkatkan pengetahuan dan kesadaran soal bahaya pergaulan bebas. 

Dalam jurnal Jurnal Cakrawala Promkes Vol. 5, No. 1, February 2023, pp. 8-17 berjudul The Effect of Reproductive Health Education on the Knowledge Level of Adolescent Pre-Marriage Sex in Riau Province, Indonesia, pengetahuan soal bahaya pergaulan bebas sebelum ada intervensi peneliti ternyata kurang.

Penelitian di salah satu SMP di Riau Indonesia menunjukkan, siswa yang sadar dan paham tentang kesehatan reproduksi sekitar 62 persen.

"Setelah adanya intervensi berupa pendidikan tentang kesehatan reproduksi, responden yang tingkat pengetahuannya meningkat, menjadi 88 persen," papar peneliti dalam diskusi hasil penelitian.

Dari hasil penelitian itu, bisa disimpulkan bahwa kesalahan nomor 1 orang tua adalah tidak terbuka dan komunikatif dalam memberi pendidikan kesehatan reproduksi pada remaja.

Karena, ternyata perlu intervensi dan informasi dari orang lain untuk meningkatkan pengetahuan mereka tentang kesehatan reproduksi.

Berikut ini rangkuman lima poin penting dari penelitian itu untuk mendukung pencegahan pergaulan bebas pada remaja dan peningkatan pengetahuan tentang kesehatan reproduksi.

Pendidikan Kesehatan Reproduksi untuk Remaja

Pendidikan kesehatan reproduksi (PKR) penting bagi remaja, terutama terkait pendidikan seksual yang tepat.

Tujuannya mengubah perilaku seksual remaja ke arah yang lebih bertanggung jawab.

Pemahaman yang Benar tentang Seksualitas

Pendidikan seksual bertujuan untuk:

  • Memberikan perspektif yang benar tentang seksualitas
  • Mengubah persepsi negatif tentang seksualitas
  • Menjelaskan bahwa seksualitas adalah hal yang alami dan normal
  • Memberikan informasi tentang perilaku seksual berisiko

Informasi tentang Kesehatan Reproduksi

Remaja perlu mengetahui tentang kesehatan reproduksi untuk:

  • Memahami proses reproduksi dan faktor-faktor yang mengelilinginya
  • Mengembangkan sikap dan perilaku yang bertanggung jawab
  • Mencegah dan mengurangi pelecehan seksual pada usia dini
  • Menghindari kehamilan yang tidak diinginkan, aborsi yang tidak aman, kematian, dan penyakit menular seksual (PMS)

Dampak Kehamilan yang Tidak Diinginkan pada Remaja

Kehamilan yang tidak diinginkan pada remaja membawa dua pilihan:

  • Melanjutkan kehamilan
  • Menggugurkan kandungan

Kehamilan dan persalinan pada usia muda berisiko tinggi bagi:

  • Ibu (kematian, pendarahan, anemia, persalinan prematur)
  • Bayi (berat badan lahir rendah, kematian perinatal)

 

Fakta-Fakta Penting untuk Selamatkan Anak Remaja dari Pergaulan Bebas

1. Kehamilan remaja disebabkan oleh peniruan gaya hidup bebas dan kurangnya pengetahuan tentang kesehatan reproduksi.

2. Kehamilan di luar nikah berdampak buruk pada remaja, banyak yang memilih untuk menggugurkan janin.

3. Penyakit menular seksual (PMS) meningkatkan risiko pada hubungan seksual remaja.

4. Remaja yang berisiko terhadap PMS cenderung melakukan hubungan seks terlalu dini.

5. Dampak psikologis dari kehamilan remaja termasuk perasaan malu, kecemasan, dan depresi.

Baca Juga: Ortunya Dosa BESAR!!! Jasad Bayi Mengambang di Sengguruh Kepanjen Malang, Ari-Ari masih Menempel

6. Kesadaran tentang dampak buruk hubungan intim sebelum menikah tidak signifikan bagi remaja.

7. Faktor-faktor yang memengaruhi remaja melakukan hubungan intim sebelum menikah termasuk kurangnya pengungkapan dari orangtua dan pengaruh lingkungan persahabatan.

8. Pendidikan agama sejak dini penting untuk membentuk nilai-nilai moral dan mengajarkan tentang seksualitas kepada anak-anak.

 

Orang tua sebagai sekolah pertama anak menjadi sangat penting untuk memastikan remajanya benar-benar terdidik dengan informasi yang benar soal kesehatan reproduksi.

Maka, komunikasi yang baik, terbuka dan dari hati ke hati adalah kunci masuk ke dalam hati para remaja yang kini makin dikepung banjir informasi.(fin)

 

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#pergaulan bebas #kesehatan reproduksi #Remaja