Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Tiap Hari RSSA Malang Terima 225 Pasien Cuci Darah

Bayu Mulya Putra • Kamis, 12 Maret 2026 | 09:11 WIB

Ilustrasi pasien cuci darah
Ilustrasi pasien cuci darah

 

MALANG KOTA – Hari ini (12/3), ada peringatan Hari Ginjal Sedunia. Peringatan itu dilakukan untuk menumbuhkan kesadaran terkait bahaya penyakit ginjal yang jumlah pasiennya terus meningkat. Contoh di RSUD dr Saiful Anwar (RSSA) Malang, yang per hari bisa menerima 225 pasien cuci darah.

Menurut dokter dari divisi hemodialisis RSSA dr Etik Mertianti SpPD FINASIM, secara umum tren penyakit ginjal di Indonesia, terutama Jawa Timur, menunjukkan peningkatan. Peningkatan tersebut terjadi dalam satu dekade terakhir.

Salah satunya penyakit ginjal kronik (PGK). Di Jawa Timur, jumlah pasiennya mencapai 0,29 persen dari populasi total, atau setara dengan 75 ribu pasien. ”Sementara yang ditangani di RSSA berkisar antara 200 sampai 225 pasien PGK,” ucap Etik.

Itu hanya pasien PGK yang menjalani cuci darah menggunakan mesin atau hemodialisis. Karena jumlahnya yang cukup banyak, pasien harus menjalani hemodialisis secara bergantian. Ada yang shift pagi, shift siang, dan shift sore sampai malam.

”Di sini ada 100 mesin hemodialisis. Padahal pasiennya banyak. Tidak hanya dari Kota Malang. Sekarang saja sudah mulai ada yang harus ikut hemodialisis pada shift sore sampai malam meski tidak banyak,” beber Etik. Ada lagi pasien yang diarahkan untuk menjalani dialisis secara mandiri, atau yang biasa disebut Continous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD). Jumlahnya sekitar 300 pasien.

Belum lagi pasien-pasien yang terpaksa menjalani rawat inap. ”Kalau rawat inap biasanya kondisinya kompleks. Antara lain mengalami penyakit ginjal dengan infeksi, sesak, atau sepsis yang meluas,” sambung perempuan yang juga dokter di RS UB itu.

Etik menyebut bahwa cuci darah harus dilakukan seumur hidup. Dia menyebut ada pasiennya yang menjalani cuci darah hingga 14 tahun. Sementara usia pasien yang menjalani cuci darah kini semakin muda.

Untuk mencegah penambahan pasien ginjal, Etik meminta masyarakat waspada terhadap sejumlah gejala. Seperti kencing yang berbusa, intensitas kencing pada malam hari yang meningkat, mual, muntah, hingga nafsu makan yang menurun.

”Pasien ginjal kerap datang dalam kondisi yang sudah akut seperti stadium empat. Karena gejalanya sering kali tak tampak, sehingga penyakit ginjal kerap kali disebut silent killer,” tutur Etik. Padahal jika sudah stadiun lima atau kronis, penanganannya akan semakin kompleks. (mel/by)

Editor : A. Nugroho
#malang #CAPD #RSSA #pgk