Pasalnya, cuaca kabut dapat berakibat komoditas rusak atau busuk daun. Hal tersebut membuat petani mengalami kerugian.
Salah satu petani Sugiono mengaku, waswas dengan cuaca kabut di wilayah Desa Tulungrejo. "Kebetulan hari ini memang cerah Mbak. Tapi, sering kabutnya di sini.
Kalau kabut otomatis risiko gagal panen tinggi," ungkapnya.
|Baca Juga :
Panen Raya, Harga Bawang Merah Jeblok
Menurut dia, cuaca kabut berupa embunnya dapat menempel di daun bawang merah. Sehingga, cepat mengalami busuk daun berwarna kehitaman.
Kabut selama dua malam saja maka, secara otomatis langsung gagal panen.
"Saya pernah mengalami gagal panen (busuk daun) seluas 1 hektare. Ruginya sampai puluhan juta," kata Sugiono, warga Dusun Wonorejo, Desa Tulungrejo ini.
Selain risiko busuk daun, Sugiono juga mengeluhkan tentang mahalnya pupuk non-subsidi. Sebab, sekarang ini harga ZA mencapai Rp 350 ribu per sak (50 kilogram).
"Kalau harga pupuk mahal begini. Petani yang kewalahan pastinya. Untungnya harga bawang merah masih terbilang stabil Rp 15 hingga Rp 20 ribu," imbuhnya.
|Baca Juga :
Musim Hujan, Kualitas Bawang Merah Menurun
Di sisi lain, petani bawang merah lainnya Sri Sulastri menjelaskan, kondisi petani di Kota Batu semakin sulit setiap harinya.
Apalagi, bawang merah di bulan Maret menuju April, Mei, dan Juni rawan terkena kabut. "Sekarang itu petani sayur-buah modalnya Rp 30 juta. Tapi, kalau gagal panen ya bisa puluhan juta," ucapnya.
Maka dari itu tidak heran kalau petani mulai memikirkan rotasi tanaman. Mulai dari bawang merah, kentang, dan wortel. Petani apel saja sudah banyak yang gulung tikar dan berganti ke komoditas lainnya. (ifa/lid). Editor : Kholid Amrullah