alexametrics
23.6 C
Malang
Thursday, 7 July 2022

Panen Raya, Harga Bawang Merah Jeblok

KOTA BATU – Panen bawang merah secara serentak di berbagai daerah membuat stok barang menumpuk. Hal tersebut berimbas kepada turunnya harga pasaran. Kondisi tersebut tak sebanding dengan biaya perawatan yang membengkak akibat cuaca ekstrim dalam beberapa pekan terakhir.

“Semua panen secara bersamaan seperti Bima dan Nganjuk. Sekarang kebanyakan pasar bawang merah dari Nganjuk semua, karena terlalu banyak barang tak seimbang dengan permintaan, sehingga harganya turun,” terang Ketua Padepokan Bawang Merah Pasar Sayur Kota Batu, Karjono hari ini (25/1). Selain itu cuaca ekstrim juga tentu berefek pada tanaman ini.

Karjono menuturkan, bawang merah tidak boleh terlalu banyak menyerap air dengan kadar tinggi. Hal tersebutlah yang membuat petani susah. Biaya perawatan dan tenaga yang dikeluarkan dua kali lebih besar dibandingkan waktu normal.

“Kalau dulu biasa nyemprot sekali dalam seminggu. Sekarang bisa sampai dua hari sekali,” ucapnya.

Jika telat melakukan penyemprotan maka akan berimbas pada kebusukan bawang. Bahkan, tanaman yang sudah memasuki umur akan berbuah, juga bisa mati jika terkena kabut.

“Penyemprotannya tetap pakai pestisida. Otomatis biayanya pasti lebih besar,” katanya.

Kini, harga bawang merah di pasaran turun sekitar 50 persen dari kondisi normal. Untuk bawang berukuran kecil dihargai Rp 6000 setiap kilogram dari harga normal Rp 15 ribu. Sedangkan untuk ukuran besar dibanderol Rp 20 ribu jauh turun dibandingkan masa normal yang mencapai Rp 30 ribu.

“Saya berharap agar pemerintah bisa menyediakan pasar. Supaya barang yang sudah tersedia tak berhenti di petani,” tutupnya.

Pewarta : Wildan Agta Affirdausy

KOTA BATU – Panen bawang merah secara serentak di berbagai daerah membuat stok barang menumpuk. Hal tersebut berimbas kepada turunnya harga pasaran. Kondisi tersebut tak sebanding dengan biaya perawatan yang membengkak akibat cuaca ekstrim dalam beberapa pekan terakhir.

“Semua panen secara bersamaan seperti Bima dan Nganjuk. Sekarang kebanyakan pasar bawang merah dari Nganjuk semua, karena terlalu banyak barang tak seimbang dengan permintaan, sehingga harganya turun,” terang Ketua Padepokan Bawang Merah Pasar Sayur Kota Batu, Karjono hari ini (25/1). Selain itu cuaca ekstrim juga tentu berefek pada tanaman ini.

Karjono menuturkan, bawang merah tidak boleh terlalu banyak menyerap air dengan kadar tinggi. Hal tersebutlah yang membuat petani susah. Biaya perawatan dan tenaga yang dikeluarkan dua kali lebih besar dibandingkan waktu normal.

“Kalau dulu biasa nyemprot sekali dalam seminggu. Sekarang bisa sampai dua hari sekali,” ucapnya.

Jika telat melakukan penyemprotan maka akan berimbas pada kebusukan bawang. Bahkan, tanaman yang sudah memasuki umur akan berbuah, juga bisa mati jika terkena kabut.

“Penyemprotannya tetap pakai pestisida. Otomatis biayanya pasti lebih besar,” katanya.

Kini, harga bawang merah di pasaran turun sekitar 50 persen dari kondisi normal. Untuk bawang berukuran kecil dihargai Rp 6000 setiap kilogram dari harga normal Rp 15 ribu. Sedangkan untuk ukuran besar dibanderol Rp 20 ribu jauh turun dibandingkan masa normal yang mencapai Rp 30 ribu.

“Saya berharap agar pemerintah bisa menyediakan pasar. Supaya barang yang sudah tersedia tak berhenti di petani,” tutupnya.

Pewarta : Wildan Agta Affirdausy

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/