Ketua Paguyuban Antikan Kota Batu Sumantono mengatakan, barang antik yang dipamerkan di Balai Kota Among Tani ini milik para anggota paguyuban. Mulai dari meja, kursi antik, dan gramofon asal luar negeri. "Memang paguyuban ini masih terhitung baru tiga tahun. Namun, kekeluargaan sejumlah 37 orang anggotanya cukup erat," terangnya.
Dia mengaku, senang bisa diberikan kesempatan oleh Pemerintah Kota Batu khususnya disparta. Karena, selama ini paguyuban antikan memerlukan ruang untuk pameran. "Sejak pandemi Covid-19, penjualan barang antik menurun drastis karena sepi peminat," kata warga asal Desa Punten, Kecamatan Bumiaji ini.
Yang menjadi daya tarik masyarakat adalah gramofon. Yaitu, sebuah mesin yang mereproduksi suara dan musiknya direkam pada piringan hitam. Ada 4 gramofon beragam jenis ukuran yang dipajang di Balai Kota Among Tani.
Menurut salah satu anggota Paguyuban Antikan Kota Batu Muhammad Rahman Sofyan, pemilik gramofon di Kota Batu terbilang langka. Sebab, harganya terbilang fantastis. Kisarannya Rp 4,5 juta hingga Rp 12,5 juta per gramofon. "Harganya bisa mahal karena kualitasnya dari luar negeri. Ada yang dari India, Kolombia (Amerika Selatan), dan sebagainya," jelasnya.
Sementara itu, untuk menghidupkan sektor perekonomian dari barang antik, salah satu anggota lainnya Yuli Sukristiono mengaku, ingin Kota Batu punya pasar seni.
"Memang sekarang ada Pasar Induk Kota Batu. Tapi, sebenarnya tidak harus di pasar, asalkan ada rumah kosong sebagai pasar seni yang harapannya mampu memberdayakan ekonomi masyarakat," paparnya. (ifa/lid). Editor : Kholid Amrullah