Gerobak nasi goreng milik Dartadi kini lebih sering dikunjungi pembeli. Banyak yang penasaran dan ingin menyaksikan langsung alat yang digunakan pria berusia 60 tahun itu untuk mengaduk nasi. Bentuknya seperti tangan robot. Poros atasnya menggantung di langit-langit gerobak. Di bagian bawah tampak seperti jari-jari tangan yang sebenarnya merupakan rangkaian dari beberapa spatula.
Saat dihubungkan dengan sumber daya, alat itu berputar pelan. Mengaduk nasi di atas wajan dengan spatula yang menyerupai jari-jari robot. Begitulah cara baru Dartadi berjualan nasi goreng setiap hari di Jalan Muharto, Kelurahan Kota Lama, Kecamatan Kedungkandang.
Begitu juga saat dikunjungi Jawa Pos Radar Malang Senin malam (18/10). Dartadi yang mengenakan kaus putih tampak mempersiapkan bahan masakan, seperti garam, saus, bawang putih, dan beberapa bumbu khas nasi goreng. Istrinya, Mariyam, setia menemani dengan membungkus pesanan yang sudah jadi. Sesekali ia berbicara dengan para pembeli tentang rasa masakan yang diinginkan.
Malam itu, para pembeli tampak antre di sebuah kursi plastik. Hampir semuanya tak berhenti memandang mesin pengaduk nasi di atas wajan milik Dartadi. ”Ini rakitan sendiri dari beberapa onderdil motor,” kata pria yang rambutnya sudah memutih itu.
Dia menjelaskan, alat itu terpaksa diciptakan karena tangan kirinya lumpuh akibat kecelakaan tunggal di Blega, Madura, pada 2019 silam. Dartadi masih ingat betul, saat itu dia mengendarai motor tanpa henti selama empat jam untuk menemui saudaranya di Pulau Garam. Mungkin karena kelelahan, ia tak lagi fokus berkendara. Motornya pun jatuh dan mengakibatkan tulang lengan kirinya patah.
Meski sudah dilakukan operasi pemasangan pen dan terapi, tangan kiri Dartadi tidak bisa kembali berfungsi normal. Pekerjaan sebagai pedagang nasi goreng pun terpaksa ditinggalkan. Padahal, pekerjaan itu sudah menghidupi keluarganya sejak 2016.
”Ternyata banyak pelanggan yang minta saya jualan nasi goreng lagi. Padahal tangan sudah tidak sekuat dulu,” ujar Dartadi sambil menunjukkan lengan kirinya di bagian atas yang tampak bengkok.
Ia pun sempat mempekerjakan orang lain untuk memenuhi keinginan para pelanggan. Namun cara itu tidak berhasil. Banyak pelanggan yang komplain lantaran rasa nasi gorengnya tak seperti dulu. Dari pada tidak laku dan terus merugi, Dartadi memutar otak agar ia tetap bisa meracik sendiri nasi goreng meski mengandalkan satu tangan.
Hal pertama yang ia bayangkan adalah menggunakan robot rakitan sendiri. Percobaan pun dimulai pada awal 2020. Beberapa alat seperti onderdil sepeda motor dia beli, kemudian dirakit menjadi mesin pengaduk nasi goreng yang lebih praktis. Awalnya, mesin tersebut tak digantung seperti sekarang. Masih diletakkan di samping wajan.
Percobaan pertama tak langsung berhasil. Saat ”robot pengaduk” ciptaannya itu dinyalakan, putarannya terlalu cepat. Nasi malah berhamburan keluar dari wajan. Untuk sementara, Dartadi mengandalkan tangan istrinya untuk membantu menggoreng nasi secara konvensional.
Meski demikian, percobaan merakit robot pengaduk tak dihentikan. Modifikasi penataan spatula dan kecepatan putaran mesin terus diuji coba. Butuh waktu sekitar enam bulan sampai akhirnya alat tersebut benar-benar bisa digunakan tanpa menimbulkan masalah. ”Agak lama ya. Saya memang sempat kekurangan onderdil dan ide,” katanya.
Selama enam bulan itu, Dartadi juga berusaha mengubah posisi alat yang semula ditempatkan di samping wajan agar bisa menggantung di langit-langit gerobak. Ide tersebut muncul lantaran tak ada lagi ruang di gerobaknya selain di atas wajan. Dengan bantuan aki, alat tersebut bisa mengaduk nasi semalaman.
Dartadi tak mengetahui alat ciptaannya viral di media sosial. Ia bahkan merasa hal tersebut tidak terlalu penting lantaran tujuannya menciptakan robot pengaduk nasi itu untuk menyambung hidup dan menjawab keluhan pelanggan. Lewat temuan itu, ia justru menyampaikan pesan agar setiap orang tidak mudah menyerah. Kekurangan fisik bukan halangan untuk berkarya karena bisa ditutup dengan inovasi
”Justru ini bisa jadi penyemangat bagi generasi muda. Jangan hanya terpaku pada kemajuan teknologi, tapi lupa bahwa kita juga perlu membuat teknologi,” tuturnya.
Dartadi yang terus menggoreng nasi pesanan pelanggan tak mengenal kata lelah. Suara gesekan spatula dengan wajan di gerobaknya terdengar sangat nyaring, seperti pedagang nasi goreng pada umumnya. Begitu pula dengan mesin ciptaannya. Terus berputar, mengaduk nasi hingga tercampur dengan bahan bumbu nasi goreng.
Istrinya pun menyiapkan kertas berwarna cokelat untuk membungkus nasi goreng pesanan pelanggan. Beberapa piring juga disiapkan untuk para pelanggan yang makan di tempat.
Malam itu, dagangannya habis lebih cepat. Puluhan pembeli memesan dalam jumlah banyak. Baginya, rezeki sudah ada yang mengatur. ”Saya berdoa saja supaya semua dilancarkan, juga percaya dengan para pelanggan yang cocok dengan nasi goreng racikan saya,” tutupnya. (adn/fat/rmc)
Editor : Shuvia Rahma