Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Saat TK Berbobot 60 Kg, SMA Pernah Jadi Aktor Film

Mardi Sampurno • Senin, 9 Mei 2022 | 23:00 WIB
BERJIWA SENI: Dwi Ariesta Wardhana (kanan) bersama ibunya, Ninik Endah dan saudaranya. Berat badan Dwi Ariesta hingga 275 kg itu karena diduga ada kelainan hormon. (ist)
BERJIWA SENI: Dwi Ariesta Wardhana (kanan) bersama ibunya, Ninik Endah dan saudaranya. Berat badan Dwi Ariesta hingga 275 kg itu karena diduga ada kelainan hormon. (ist)
MENGULIK DWI ARIESTA WARDHANA, ”MANUSIA NYARIS TIGA KUINTAL” YANG MULTI-TALENTA

TIDAK begitu banyak yang mengenal keluarga Dwi Ariesta Wardhana di Perumahan Puri Kartika Asri, Arjowinangun, Kedungkandang. Maklum saja, ternyata keluarganya baru dua tahun tinggal di perumahan itu.

Sebelumnya dia pindahan dari Kelurahan Bumiayu. Untuk mengenal lebih dekat siapa sebenarnya Dwi Ariesta yang menjadi korban lift ambrol pada Sabtu pagi (7/5), Jawa Pos Radar Malang mencoba menyambangi kediamannya di RT 02 / RW 09 Kelurahan Arjowinangun, Kecamatan Kedungkandang kemarin pukul 13.00 (8/5).

Ketika sampai ke kediaman korban dengan nomor rumah 14 di blok Q itu, fasilitas yang mempermudah aktivitas Aries langsung tersaji. Di pagar, sudah terlihat mesin penggerak geser pagar yang dikendalikan dengan remote, alat itu bergerak ketika penghuni membukakan pintu dari dalam. Di rumah itu, wartawan koran ini disambut oleh Ninik Endah, 57, ibu korban. Ariesta sendiri masih dirawat di RSSA. Ninik pun menunjukkan lokasi kejadian yang mengagetkan warga di kompleks perumahan. “Kelihatannya ada kesalahan untuk sling kabel di lift itu, padahal sehari-hari biasa saja,” terang dia.

Photo
Photo
HASIL KARYA: Sejumlah kreasi seni karya Dwi Ariesta Wardhana terpajang di rumahnya. (PMI KOTA MALANG FOR RADAR MALANG)

Ya, baik ketua RT yang menemani di sana dan Ninik mengatakan hal tersebut. Pasalnya, ketika lift itu dibuat dua tahun lalu, spesifikasi kabel yang digunakan harusnya berukuran 10 milimeter, tetapi di sana, hanya 8 milimeter. Apalagi waktu itu korban mengetahui adanya beberapa serat yang sudah terputus.

Tak lama, Ninik menceritakan kejadian Sabtu pagi itu. Ketika itu, dia mengalami pendarahan di kakinya yang mengalami luka. Lalu Ninik berteriak minta tolong kepada Aries. Otomatis, teriakan itu membuat kaget korban yang akan makan pagi. Diduga karena terburu-buru, korban berlari ke lift dan langsung terjatuh. Tidak jadi menolong ibunya, malah korban yang harus ditolong banyak orang karena jatuhnya bilik elevator. Aries mengalami cedera akibat terjatuh dari ketinggian tiga meter ketika menaiki lift atau elevator penghubung lantai dua dan satu di rumahnya.

Karena memiliki berat badan jumbo: 275 kilogram, evakuasi mulai dari pengangkatan hingga dibawa ke IGD RSSA begitu sulit. Lebih dari 12 orang yang terdiri dari UPT Pemadam Kebakaran (Damkar) dan PMI Kota Malang dikerahkan hingga pria berusia 38 tahun itu mendapatkan perawatan medis untuk patah tulang di dua kaki bagian betis ke bawah.

Kabar terakhir, Aries sudah selesai menjalani operasi pembersihan di bagian lukanya. Ibu korban yang duduk di kursi roda itu menceritakan bila elevator yang didesain oleh seseorang dari Jogjakarta dan dikerjakan oleh tukang asal Kota Batu itu tersedia untuk memobilisasi Aries yang tinggal di lantai dua. Apalagi, dalam kesehariannya lebih sering ada dua orang saja di rumah tersebut. “Untuk naik turun mas Aries, untuk bantu-bantu saya yang mengalami kelumpuhan,” papar wanita yang juga memiliki badan besar itu.

Selain itu, untuk membuat kenyamanan diri korban, kasur di kamarnya memakai ukuran besar, dan kamar di lantai dua dipilih karena lebih luas. Satu keluarga tersebut diakui oleh Ninik memang memiliki badan yang berukuran di atas rata-rata secara genetik.

Selain riwayat penyakit Diabetes Miletus, dia ditengarai memiliki kelainan pada hormon tubuhnya. Untuk Aries sendiri, pada usia muda saat sekolah TK berat badannya sudah 60 kilogram. Bahkan salah satu kerabat yang merupakan salah satu orang penting di Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Pusat pernah akan membawa Aries untuk diteliti ke Amerika Serikat. Namun karena alasan finansial dan keterbatasan bahasa harus diurungkan.

Namun demikian, memiliki tubuh yang besar tidak membuat korban tidak beraktivitas. Selain membantu ibunya yang mengharuskan naik turun lantai, dia juga sering memasak dan membelikan makan keluar rumah.

Di balik tubuhnya yang besar, ternyata Aries menyimpan talenta seni peran yang bagus. Bahkan saat duduk di bangku SMA, dia pernah shooting sebuah FTV di Jakarta. Judulnya Cinta di Pantai Selatan. Tetapi, garapan tersebut tidak sampai selesai karena alasan lelah menunggu artis utama untuk siap pengambilan gambar.

Boleh dibilang, keinginan Aries untuk bekerja itu sangat besar. Sekitar satu tahun lalu, dia pernah bekerja sebagai pengemudi taksi online. Tetapi lagi-lagi, tidak berlangsung lama karena ketidaknyamanan dalam mengemudi. Juga ada aturan perusahaan yang tidak memfasilitasi pengemudi dengan ukuran badan seperti Aries.

Dia sempat juga bekerja sebagai driver antar jemput sekolah. Di sisi lain, Tuhan memberikan pria berusia 38 tahun itu bakat di bidang seni, utamanya seni ukir logam. Setelah tidak berkarya sebagai pengemudi, dia memaksimalkan bakat ukirnya untuk mendapatkan uang. Aries yang hobi mengoleksi beragam pisau eksotis dan senapan angin itu juga mengukir di semua koleksi miliknya. Kebanyakan bermotif ala Suku Dayak.

Terakhir, dia membuat hiasan lampu dari pipa PVC sesuai saran dari sang ibu yang ketika itu habis nonton sebuah video tutorial di YouTube. Karyanya dijual dengan bandrol puluhan ribu rupiah. Pesanan pun disebut Ninik berasal dari berbagai daerah. (biy/abm) Editor : Mardi Sampurno
#Aktor Film #Tragedi Lift Ambrol #Kota Malang #radar malang #Dwi Ariesta Wardhana