Suasananya asri, permukimannya tidak padat. Namun sebelum ada pemekaran wilayah kota pada 1987, secara administratif kampung tersebut masuk wilayah Kabupaten Malang. Asal-usul nama Kampung Slilir juga memiliki beberapa versi.
Namun yang diingat dan diyakini generasi sepuh kampung, nama Slilir diambil dari kata nglilir. Artinya terjaga dari tidur. Keyakinan itu diungkapkan Laiman, warga asli Kelurahan Bakalan Krajan. Pria kelahiran 1947 itu mengisahkan, pada zaman dulu ada sekelompok orang (sekitar 10 orang) yang melakukan babat alas (membuka lahan untuk permukiman) sedang beristirahat.
Tak lama kemudian, mereka terbangun karena teringat harus segera menyelesaikan pekerjaannya. ”Untuk menandai tempat peristirahatan itu, mereka memberi nama Slilir. Diambil dari kata nglilir,” ujarnya. Validitas asal-usul nama seperti itu tentu tak perlu diperdebatkan. Malah bisa memperkaya literasi sejarah terbentuknya sebuah permukiman.
Kalau pun ada versi lain yang ditarik ke masa lebih lampau, itu sah-sah saja karena bisa jadi memang berjalan secara berdampingan. Misalnya versi yang diungkapkan Eko Rody Irawan, pendiri Museum Reenactor Ngalam. Menurutnya, konon nama Slilir bermula dari ontran-ontran atau keributan yang dipicu perseteruan antara Wangsa Sinelir dan Rajasa (zaman kerajaan Singasari/Tumapel).
Berdasar Prasasti Tarikh Mula Manurung 1255, Wangsa Sinelir yang merupakan keturunan Ken Dedes dari Tunggul Ametung berebut takhta dengan Wangsa Rajasa yang merupakan keturunan Kendedes dari Ken Arok. Wangsa Sinelir yang terkenal digdaya menempati sebuah kampung yang akhirnya diberi nama Slilir. Lokasinya di Bakalan Krajan yang konon bermakna cikal bakal kerajaan.
Dalam prasasti Sukun tertulis bahwa bakalan disebut sebagai Tlatah Maju Peradaban. Eko juga memperkirakan, di daerah Slilir ada peninggalan kerajaan berupa candi. Namun peninggalan itu belum ditemukan. Prediksi itu didasari beberapa temuan benda kuno di daerah Slilir. Di antaranya, balok batu yang dijadikan tangga rumah warga, tumpak watu, dan lingga yoni. Saat ini, bendabenda itu disimpan di Balai RW 01, Jalan Bangka Huni, Kelurahan Bakalan Krajan.
Di depan SD Bakalan juga masih tersimpan potongan tugu peninggalan masa lalu. Dulu, potongan tugu itu adalah penanda sebuah gumuk yang difungsikan sebagai tempat warga berkumpul untuk menyampaikan informasi kegiatan. Temuan tentang benda-benda kuno itu juga tercatat dalam buku Wawancarita Kesejarahan Desa-Desa Kuno di Kota Malang.
Disebutkan bahwa pada 17 April 2013, Khazanah Kepurbakalaan Kota Malang menemukan artefak megalitik di Kelurahan Bakalan Krajan. Artefak itu berupa dua buah lumpang batu, sebuah dolmen (meja), empat buah balok batu, dan uang logam berlubang di tengah atau disebut kepeng benggol. Warga menyebut temuan yang ada di balai RW itu klumpang klenteng.
Dulu, sebelum diletakkan di depan Balai RW 01, banyak tangan-tangan jahil yang berusaha mengusik benda-benda bersejarah tersebut. Ada yang mencoba mencurinya, bahkan ada pula yang membuangnya ke sumur. ”Anehnya, klumpang klenteng selalu kembali ke tempat semula. Yaitu di pinggir tebing dengan posisi separo di tanah dan separo menggantung,” cerita Laiman. Versi lain asal-usul Kampung Slilir ada di buku berjudul Toponim Kota Malang.
Disebutkan bahwa nama Slilir merupakan hasil dari evolusi Bahasa Jawa yang cukup lama, yaitu dari kata sinelir. Selir atau sinelir dapat diartikan sebagai pasukan terpilih. Namun kampung Slilir sebagai pusat kediaman pasukan terpilih pada masa Kerajaan Singasari adalah keterangan yang masih perlu dibuktikan dengan temuan artefak pendukung. Topeng Slilir Kampung Slilir juga memiliki sejarah topeng tersendiri. Menurut Eko Rody Irawan, topeng khas Slilir dibuat oleh Mbah Ngaisan.
Berbeda dengan Topeng Malangan yang mengangkat cerita pangeran, Topeng Slilir justru mengangkat cerita rakyat jelata dari kisah Panji, namun dibalut dengan kisah romantis. Topeng ini tidak bisa tumbuh karena bukan topeng pangeran, sehingga tidak laku dan kemudian pembuatannya dihentikan. ”Keping puzzle jejak Topeng Slilir masih terus dicari. Sebenarnya ada 12 Topeng Slilir. Tapi saat ini masih ditemukan 5 Topeng Slilir di Blitar dari keturunan Mbah Ngaisan.
Keberadaan tujuh topeng lainnya masih dilacak,” ungkap Eko. Jejak keberadaan Topeng Slilir juga diungkapkan oleh Suwardono, penulis buku Monografi Sejarah Kota Malang. Dia mengungkapkan, kisah Topeng Slilir di Malang jarang diketahui orang. Bahkan oleh warganya sendiri. Topeng Slilir patut dibanggakan karena mengangkat cerita asli Indonesia.
Dia menjelaskan, Topeng Slilir sangat menarik. Tariannya juga luwes. Bahkan lebih luwes dari tarian Topeng Malangan lainnya. Tekstur topengnya lebih halus. Suwardono mengaku tidak tahu tentang asal nama Slilir. Namun dia menjelaskan bahwa mayoritas nama kampung di Malang berasal dari plesetan, agar mudah diucapkan. Perjalanan lain tentang Topeng Slilir juga diungkapkan Saiman selaku salah satu sesepuh kampung.
Dia menjelaskan, dalam perkembangannya, topeng Slilir juga dibuat tokoh lain yang bernama Mbah Sanawi. Tak hanya membuat, Mbah Sanawi juga mempunyai tim pertunjukan Topeng Slilir. ”Pertunjukan topengnya unik. Sering disebut juga sebagai topeng bisu,” terang Laiman. Saat Topeng Slilir dimainkan, semua pemain tidak ada yang mengeluarkan sepatah kata pun. Begitu pula pada saat pembuatan, semua pekerja tidak ada yang berbicara. Saat ini, yang tersisa dari keturunan Mbah Sanawi ada di RW 02 Kelurahan Bakalan Krajan. (*/fat) Editor : Mardi Sampurno