Pantauan Jawa Pos Radar Malang kemarin (16/5), kondisi rusunawa tidak terawat. Banyak rumput-rumput liar yang tumbuh tinggi. Akses menuju ke lokasi juga sempit. Sementara konstruksi bangunan rusak, dan kaca pecah.
Untuk diketahui, rusunawa bercat hijau itu hasil kerja sama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang bersama Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Pembangunannya diperuntukkan bagi guru yang belum memiliki rumah.
Anggota Komisi D DPRD Kota Malang Suryadi menegaskan, pihaknya meminta disdikbud bersurat ke pemerintah pusat. Tujuannya untuk menanyakan status rusunawa yang selama ini masih berada di bawah naungan pusat.
Meski kunci rusunawa sudah diberikan, dia mengatakan, tetapi status rusunawa yang belum jelas membuat bangunan tak bisa digunakan. ”Kami sudah menyarankan disdikbud untuk segera menanyakan status rusunawa. Karena bisa disewakan kepada tenaga pendidik yang membutuhkan tempat tinggal atau dimanfaatkan dalam rangka meningkatkan PAD,” terang Suryadi.
Dengan adanya kejelasan status, Suryadi mengatakan, pemkot bisa segera melakukan perawatan dan memanfaatkan rusunawa. ”Informasi terakhir yang saya dapat, disdikbud sudah bersurat ke provinsi, tapi terjadi kebuntuan. Akhirnya kami meminta membuat surat permohonan lagi,” lanjut dia.
Legislator dari Fraksi Partai Golkar itu mengungkapkan, saat pandemi sebenarnya ada wacana menjadikan rusunawa sebagai homestay pasien Covid-19. Namun kondisi rusunawa belum layak, sehingga rencana tidak terealisasi.
Terpisah, Kepala Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Kota Malang Subkhan mengatakan, pihaknya akan menelusuri riwayat aset rusunawa. Jika sudah jelas akan ditindaklanjuti untuk pemanfaatannya.
Disinggung terkait potensi untuk alih fungsi rusunawa dalam kebutuhan lain, Subkhan menyatakan harus menunggu kejelasan administratif. ”Bisa saja dipertimbangkan, tapi sampai sekarang belum sampai ke sana,” terang pejabat eselon II B Pemkot Malang tersebut.(mel/dan) Editor : Mahmudan