Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Tragedi Kanjuruhan Berdampak untuk Toko-Toko Jersey Arema, Begini Pengakuan Penjual

Yudistira Satya Wira Wicaksana • Sabtu, 13 Januari 2024 | 16:14 WIB

TERUS BERINOVASI: Store Ultras terus berinovasi dengan membuat produk-produk di luar tema Arema.
TERUS BERINOVASI: Store Ultras terus berinovasi dengan membuat produk-produk di luar tema Arema.

Dampak tragedi Kanjuruhan lebih terasa dibanding pandemi Covid-19. Itulah yang dirasakan store-store merchandise dan jersey bertema Arema. Omzet mereka turun drastis. Mau tidak mau mereka harus berinovasi.

Toko jersey Arema Sport di Jalan Pasar Besar, Klojen, Kota Malang sudah eksis sejak 2004.

Toko itu menjadi salah satu jujukan warga Malang Raya untuk mencari merchandise dan jersey Arema.

Pada beberapa momen, seperti jelang HUT Arema, toko itu bakal lebih ramai pembeli jersey.

Namun, pasca tragedi Kanjuruhan 1 Oktober 2022 lalu, kondisinya tak lagi sama.

Peminat produk produk bertema Arema terus menurun.

”Posisi sekarang itu orang sedang tidak butuh dengan ini,” kata Suniarti, pemilik Arema Sport sembari menunjuk jersey dan merchandise Arema, Rabu lalu (10/1). 

Dia bahkan menyebut bila situasi saat ini lebih berat dibanding dengan masa pandemi Covid-19, 2020 sampai 2021 lalu.

Ketika itu, walau warga tidak leluasa ke mana-mana, tetap ada yang memesan barangbarang dari Arema Sport.

”Sekarang Mas, sehari dapat Rp 200 ribu sudah ngoyo. Barang laku dua sampai tiga sudah bagus,” tambahnya.

Sebelum ada tragedi Kanjuruhan, Arema Sport bisa mendulang omzet sekitar Rp 2 juta dalam sehari.

Setiap bulan, perputaran uang di tempat Suniarti mencapai Rp 30 juta sampai Rp 40 juta.

Produk-produk bertema Arema menyumbang 75 persen dari total omzet tersebut. 

Kini, omzet di Arema Sport turun cukup drastis.

Suniarti mengestimasi angka penurunannya sekitar 70 persen.

Meski begitu, mereka bershasrat untuk tetap bertahan.

Suniarti sadar bila tragedi Kanjuruhan membuat banyak pihak bersedih dan kecewa.

”Namanya juga peristiwa kemanusiaan. Ditambah Arema FC juga tidak main di sini (Malang). Jadi ya sabar saja,” kata dia.

Nasib serupa juga dialami Toko Maharema.

Outlet merchandise dan jersey bertema Arema itu sudah ada sejak 2009.

Mereka menasfsir penurunan omzet di kisaran 70 persen.

Saat Jawa Pos Radar Malang bertandang ke sana beberapa hari lalu, tak banyak produk tentang Singo Edan yang menghiasi toko.

”Sekarang kami menjual yang banyak dibutuhkan masyarakat. Contohnya seperti baju Bantengan, timnas, dan pakaian olahraga,” kata pemilik Toko Maharema Budi Mujianto.

Sejak tragedi Kanjuruhan yang membuat 135 orang berpulang terjadi, dia sadar bila usahanya bakal terimbas. 

"Ibaratnya seperti sedang mati suri saat ini,” kata dia.

Berdasar pengalamannya, prestasi dan euforia tim Singo Edan cukup berpengaruh terhadap penjualan di tempatnya.

Musim kompetisi 2021/2022 dan juara Piala Presiden 2022 menjadi contohnya.

Saat itu jumlah penjualan di tempatnya juga meningkat.

Namun seketika turun saat Stadion Kanjuruhan menjadi saksi bisu tragedi terbesar dalam sejarah sepak bola Indonesia. 

Berada kondisi seperti saat ini bukan kali pertama dirasakan Budi.

Saat Covid-19 merebak, dia juga mengalami penurunan omzet.

”Tapi jika dibandingkan, ini efeknya paling terasa,” tambah bapak tiga anak tersebut. 

Toko Ultras juga mengalami situasi yang sama.

Mereka mengalami penurunan omzet sekitar 40 persen, dari estimasi pendapatan sebelumnya yang mencapai Rp 40 juta per bulannya.

”Karena itu untuk sementara kami akan menyesuaikan produksi sebagai bentuk adaptasi,” kata Public Relation Ultras Azziz Choiri.

Pria yang akrab disapa Jio itu menyebut bila langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga dan merawat brand yang sudah ada sejak 1998.

Dia percaya nanti pasti ada jalan saat pihaknya terus berusaha.

”Sebagai sebuah usaha, kami tidak bisa hanya menerima kondisi yang enaknya saja,” paparnya. 

Jio menjelaskan beberapa usaha pihaknya ke depan.

Seperti memperkuat hubungan dengan beberapa relasi.

Sembari terus melakukan inovasi dan membuat produk dengan detail-detail khusus.

Itu karena sejak awal Ultras mempunyai slogan build with pride. 

Selain Ultras, toko yang juga identik menjual merchandise dan jersey Arema yakni 2 Brothers.

Mereka juga merasakan dampak tragedi Kanjuruhan.

Produk mereka bertema Arema bisa dibilang telah kehilangan peminat.

”Saya sempat sampai ganti logo Arema untuk mendongkrak penjualan,” kata salah satu owner 2 Brothers Eko Cahyono. 

Langkah itu dia lakukan karena beberapa konsumennya mulai kehilangan simpati dengan Tim Arema.

Situasi tersebut membuat omzet mereka turun cukup drastis.

Saat ini, dalam satu bulan, mendapatkan pemasukan sampai Rp 1 juta cukup sulit.

Padahal, sebelum ada tragedi Kanjuruhan, mereka bisa meraup pemasukan Rp 10 juta sampai Rp 20 juta. 

”Pernah dalam seminggu itu yang beli hanya ada satu saja,” kata Eko.

Saat ini tokonya mencoba berevolusi.

Toko 2 brothers juga menjual makanan dan minuman.

Saat malam, mereka berjualan es coklat.

Sedangkan ketika pagi hari, mereka berjualan makanan ala-ala barat. 

Toko untuk merchandise dan jersey kini berukuran 3 x 3 meter.

Padahal sebelumnya berukuran 6 x 6 meter.

Saat ini, produknya juga dijual menggunakan sistem pre-order.

Eko menyebut bila gairah jual beli merchandise dan jersey Arema hampir tidak ada.

Ada rasa kurang nyaman saat memori berpulangnya 135 suporter itu mengemuka.

”Saat itu, orang yang beli tiket di saya juga ada yang berpulang,” imbuh Eko.(gp/by)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#Jersey #Arema