MALANG KOTA – Hujan yang mengguyur selama 16 jam, sejak Sabtu (9/3) hingga kemarin (10/3) mengakibatkan longsor di sejumlah kawasan. Badan Penanggulangan dan Bencana Daerah (BPBD) Kota Malang mencatat ada tiga titik yang diterjang longsor.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Malang Surya Adhi Nugraha memaparkan beberapa lokasi yang dilanda longsor. Di antaranya terjadi di Jalan Ki Ageng Gribig Gang 3A, Kelurahan Kedungkandang. Kemudian longsor juga terjadi di Jalan Kresno Gang II RT 11 RW 1, Kelurahan Polehan, Kecamatan Blimbing dan Jalan Moch. Rsyid Gang Akasia, Kelurahan Mulyorejo, Kecamatan Sukun.
”Kejadiannya tidak bersamaan. Misalnya saja di Jalan Ki Ageng Gribig pukul 15.00,” kata Surya kemarin (10/3). Lalu longsor di Jalan Moch Rasyid sekitar pukul 19.15 dan Jalan Kresono pukul 20.15.
Demikian pula dengan kerusakannya. Di Jalan Ki Ageng Gribig, dia mengatakan, ada rumah yang rusak pada bagian fondasi. Sementara di Jalan Moch Rasyid mengakibatkan dua rumah rusak. "Satu rumah ambrol dan satu lagi mengalami kerusakan pada fondasi," terangnya.
Sebagai upaya penanganan, saat ini pihaknya memasang barricade line agar warga menjauhi lokasi longsor, sehingga tidak timbul korban jiwa. Selain itu, dia mengatakan, pendistribusian terpal agar longsor tidak semakin meluas.
Salah satu warga yang terdampak longsor, Kristin Teguh Wahyuni bercerita bahwa dirinya sudah tiga tahun menempati rumahnya yang ada di lingkungan perumahan kawasan Jalan Moch Rasyid itu. Rumah tersebut dibangun di tanah kavling seluas 72 meter persegi.
Sebelum membeli rumah tersebut, dia juga sudah melihat site plan. Dari site plan itu, dia melihat bahwa rumah dengan tepian ada jarak, tapi sedikit. Selain itu, sudah melakukan survei ke seberang perumahan.
Menurut informasi, tanahnya keras, sehingga kondisi dirasa aman. Namun bagian belakang lebih sempit dan memiliki kontur vertikal. Terutama di tempatnya dan tetangga sebelahnya. Lebih sempit dibanding tetangga lainnya karena bagian belakang berkelok. Sebab, rumah-rumah lain yang ke arah barat ada jarak tiga sampai empat meter.
"Ternyata kemarin (Sabtu, 9/3) longsor. Padahal bagian belakang rumah mau saya bikin dapur dan kamar mandi," cerita Kristin.
Dia menyebut bahwa longsor terjadi dua kali. Yakni menjelang pukul 20.00 yang membuat tembok pembatas rumah ambrol. Kemudian terjadi kembali pada pukul 22.00 yang menyebabkan bagian belakang rumah ambrol.
Nasib serupa juga dirasakan tetangga Kristin, yakni Agatha Risma. Dia baru saja menempati rumah bersama ibunya selama empat hari. Saat kejadian, keduanya tidur di kamar tengah. Lalu mereka merasakan getaran. "Setelah itu diingatkan oleh bapak yang biasanya keliling kalau ada longsor," ungkapnya. Benar saja, bagian belakang rumahnya ambles. Bagian yang ambles mencapai 50 meter.
Sama seperti Kristin, Agatha juga mengungkapkan bahwa sebelum membeli, pengembang mengklaim jarak antara tembok sungai dengan rumah 10 meter. "Ternyata ya tidak sampai 10 meter," ucapnya. Agatha tidak menyangka rumahnya terdampak longsor. Sebab, kalau kemarau kondisi tanah mengeras. (mel/dan)
Editor : Mahmudan