Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Sesulit Ini Cari Pasangan? Begini Cerita Acara Blind Date di Kota Malang

Bayu Mulya Putra • Minggu, 14 Juli 2024 | 11:53 WIB
EVENT ANYAR: Sesi pertama dalam event blind date yakni ngobrol dengan mata tertutup. Durasinya sekitar 30 menit.
EVENT ANYAR: Sesi pertama dalam event blind date yakni ngobrol dengan mata tertutup. Durasinya sekitar 30 menit.

Layanan biro jodoh terus berkembang. Selain memanfaatkan media sosial, kini semakin banyak yang membuat aplikasi ta’aruf. Ada pula yang rutin membuat event blind date atau kencan buta.

EVENT blind date atau kencan buta mulai bermunculan di beberapa daerah.

Salah satunya di Kota Malang.

Tren itu awalnya muncul dari mancanegara.

Kemudian diadopsi oleh anak-anak muda di Indonesia.

Salah satu penggagas event blind date di Kota Malang yakni Fahmi Assiddiqi.

Dia lah yang membuat akun Instagram dan Event Organizer (EO) Lab. Romansa.

Idenya bermula dari keresahan teman-temannya yang kesulitan mencari pasangan.

Akhirnya, Fahmi terpikir untuk membuat event blind date.

Dia menggodok konsepnya selama dua bulan.

Tepatnya mulai bulan Mei 2024 lalu.

Kemudian, event blind date pertamanya dimulai pada 6 Juli lalu.

Lokasinya di salah satu kafe di Kecamatan Klojen.

”Jujur saya tidak menyangka antusiasmenya sangat luar biasa,” terangnya.

Untuk batch pertamanya, dia mencatat ada 120 pendaftar.

Padahal, saat itu kuota yang dibuka hanya untuk 16 orang saja.

Event blind date itu tak dilakukan asal-asalan.

Ada kriteria khusus yang harus dipenuhi peserta pada setiap batch-nya.

Misalnya untuk batch pertama, ada batasan usia 20 hingga 26 tahun.

”Tapi kalau ketentuan pasti harus jomblo alias single,” ujar Fahmi.

Kriteria lain yang dipertimbangkan seperti keseriusan mengikuti blind date.

Itu dibuktikan dengan calon peserta mengisi formulir pendaftaran.

Ada beberapa poin di dalamnya yang harus diisi calon peserta.

Seperti nama, alamat, hobi, kriteria pasangan, foto diri dan catatan khusus.

Dari informasi itulah, Fahmi dan tim akan memetakan pasangan yang cocok untuk setiap pendaftar.

Saat prosesi berlangsung, peserta akan ditutup matanya dan dituntun menuju sebuah meja.

Mereka bakal duduk berhadap-hadapan pasangan yang dipilihkan panitia.

”Kami biarkan mereka ngobrol selama 30 menit tanpa saling melihat satu sama lain,” paparnya.

Mereka bisa memperkenalkan diri atau saling bertukar informasi.

Tujuan awalnya untuk menemukan chemistry satu sama lain.

Setelah itu, mereka diperbolehkan untuk membuka penutup mata untuk mengenal lebih jauh.

Fahmi juga menyediakan kartu pertanyaan.

Fungsinya untuk membantu peserta berkomunikasi kalau kehabisan topik.

Setelah itu, mereka akan memainkan sebuah games untuk membangun chemistry.

Sebagai contoh, diberikan pertanyaan seputar perkenalan.

Tujuannya untuk mengetahui seberapa jauh peserta mengenal satu sama lain.

”Tapi, peserta tidak bisa ganti pasangan,” imbuh pria berusia 31 tahun itu.

Namun, jika mereka ingin bertukar kontak di luar acara dengan peserta lain, itu tak masalah.

Menurut Fahmi, hingga batch pertama tak ada satu pun yang komplain dengan pasangan.

Artinya, pertimbangan panitia selama ini dirasa cukup cocok.

Namun kendalanya, bagaimana mencocokkan pendaftar satu dengan lainnya agar sesuai dengan kriteria yang mereka tulis.

”Cari pasangannya susah kalau inginnya terlalu muluk-muluk, kami pilih yang simple dan masih masuk akal,” jelasnya.

Erlangga Bagus Febrianto, anggota Tim Lab. Romansa mengaku heran dengan peminat blind date yang didominasi perempuan.

Angka pendaftar perempuan mencapai 60 hingga 70 persen.

”Artinya, minat laki-laki yang mencari pasangan lewat blind date masih minim,” kata dia.

Angga, sapaan akrabnya, menyebut bila mayoritas peserta cukup puas dengan event tersebut.

Dia tak menyangka event pertamanya berhasil menyedot banyak perhatian kaum single di Kota Malang.

”Peserta bilang sangat puas dan ingin ikut lagi,” ucapnya.

Bahkan, beberapa dari mereka juga melanjutkan kencan di luar acara.

Itu semua diketahuinya dari story WhatsApp (WA) pendaftarnya.

Dia menyebut bila timnya akan membuat event blind date lagi pada tanggal 14 Juli.

Namun itu dikhususkan untuk peserta dewasa.

Dengan rentang usia 26 hingga 40 tahun.

”Sampai saat ini sudah 200 orang lebih yang mendaftar, kami cukup kewalahan,” tuturnya.

Kuota untuk batch kedua hanya dibuka untuk 20 orang, atau 10 pasang.

Tiap peserta yang lolos seleksi harus membayar biaya Rp 200 ribu.

Biaya itu untuk fasilitas dinner dan barbeque.

Sebelumnya, pada batch pertama tiap peserta hanya perlu mengeluarkan biaya Rp 100 ribu.

Mereka sudah mendapat makanan dan snack.

Durasi total untuk tiap event berlangsung sekitar 4 sampai 5 jam. (ori/by)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#peminat #Event #perempuan #Blind Date #Kota Malang