DULU, Wisma Ernie begitu terkenal di Kecamatan Lawang.
Lokasinya yang berada di puncak bukit selalu menarik perhatian para pengendara saat hendak melintasi flyover Lawang.
Apalagi, wisma megah berwarna putih itu merupakan satu-satunya bangunan di atas bukit.
Sayang, sejak 1996 wisma itu mangkrak. Tahun demi tahun keindahannya mulai memudar.
Bagian atapnya perlahan mulai rontok.
Sampai akhirnya, wisma itu berpindah tangan dan peruntukannya berubah.
Saat Jawa Pos Radar Malang berkunjung ke lokasi itu kemarin (13/8), tampilan bangunannya sudah benar-benar berbeda.
Kesan angker sama sekali tidak ada.
Terlihat bahan bangunan berupa batu bata, sak semen, dan pasir berada di dekat gerbang.
Bahkan sudah ada bangunan baru dua lantai yang sedang dalam pengerjaan.
Bangunan baru itu berada tepat di lahan bekas wisma yang pemilik awalnya merupakan warga keturunan Tionghoa bernama Hari.
Nama Wisma Erni sendiri diambil dari nama istri Heri.
Tak jauh dari lokasi bangunan utama, terlihat barak dengan ruangan berjumlah delapan.
Barak itu dijadikan tempat tinggal pekerja yang membangun gedung baru.
Kemarin sama sekali tidak ada aktivitas pembangunan.
Hanya ada dua orang yang berjaga.
Salah satunya bernama Luki.
Pria asal Kelurahan Gadang, Kecamatan Sukun, Kota Malang itu memberi kesempatan wartawan Jawa Pos Radar Malang berkeliling melihat-lihat proyek bangunan utama.
Terlihat progres pembangunan sudah sampai di lantai dua.
Namun, di lantai satu juga masih ada sisi kanan dan kiri yang belum diberi tembok.
Rencananya, gedung baru itu akan diberi nama Jaami’atul Mudzakkirin Yarjuu Rohmatulloh.
Nantinya akan terdiri dari tiga lantai.
Bangunan lama hanya menyisakan satu tangga memutar di sisi timur.
”Itu mungkin juga akan dibongkar lambat laun,” kata dia.
Bangunan yang dulu populer dengan cerita tempat orang kesurupan itu dibeli Pondok Pesantren Shiddiqiyyah Jombang pada 2016.
Harganya sekitar Rp 8 miliar.
Pemilik sebelumnya merupakan warga keturunan Arab yang memenangkan lelang dari pemilik lama.
Ada dua versi urban legend yang beredar di Malang Raya tentang Wisma Erni.
Pertama, sang pemilik sakit dan meninggal, sehingga wisma itu mangkrak dan terbengkalai.
Ada juga cerita pembunuhan terhadap Erni.
Dua kisah itu mengiringi munculnya ragam testimoni aneh dari orang yang menyewa maupun berada di dekat bangunan itu.
Seperti kesurupan, keran air yang menyala sendiri, atau bahkan penampakan hantu perempuan.
Ketua Pelaksana Pembangunan Proyek Kukuh Prio Utomo, 58, yang ditemui wartawan koran ini mengaku tidak tahu alasan khusus pengurus pesantren memilih membeli Wisma Erni.
”Yang pasti, saat itu pihak pesantren mau membuat gedung jaami’atul mudzakkirin atau tempat berkumpulnya orang berzikir. Mereka mencari lahan yang berada di pinggir jalan,” kata dia.
Setelah dilakukan pembelian, pihak pesantren melakukan doa di lokasi pembangunan.
Hasilnya, para pekerja tidak pernah mengalami kejadian mistis.
Bahkan Kukuh dan para pekerja berani menginap di lokasi pembangunan.
Proses pembangunan dilakukan secara bertahap mulai 2016.
Dimulai dari pengujian kekuatan tanah untuk keperluan membangun fondasi.
Pada tahun yang sama juga dilakukan pembangunan pagar keliling.
Sementara pengerjaan bangunan utama mulai dilakukan pada 2018.
Temuan tim di lapangan menunjukkan bahwa pilar-pilar bangunan asli tidak menggunakan fondasi yang cukup dalam.
Hanya ada ring bawah dan kolom besi berukuran 20 x 12 sentimeter.
Kolom besi itu kemudian dibalut beton dengan diameter 70 sentimeter.
”Di bawah wisma ternyata batunya besar-besar. Itu kami ketahui pada saat melakukan penguatan fondasi,” ungkap dia.
Karena harus mengangkat dan memecahkan batu-batu besar di bawah tanah, pembuatan fondasi memakan waktu lama.
Baru pada 2022, perombakan dengan cara merobohkan bangunan lama mulai dilakukan.
Proses itu kadang bisa berlangsung cepat, tapi bisa juga melambat karena faktor biaya yang bergantung dari jamaah.
Menurut Kukuh, pembangunan kawasan di bekas lahan Wisma Erni akan memakan biaya Rp 5 miliar.
Porsi paling besar untuk penyelesaian bangunan utama yang diberi nama Jaami’atul Mudzakkirin.
”Bentuknya akan seperti Masjid Hagia Sophia di Turki,” terangnya.
Lalu, di samping bangunan utama yang sekarang berupa lapangan akan dibangun gedung pertemuan satu lantai Pesantren Jati Diri Bangsa Merajut Nusantara.
Sementara tempat yang kini dijadikan kantor pembangunan dan tempat istirahat pekerja bakal dijadikan asrama. (*/fat)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana