TAK sedikit Pedagang Kaki Lima (PKL) yang sudah berusia senja.
Mereka terpaksa berjualan demi menyambung hidup.
Itu pun masih kerap berkejarkejaran dengan petugas ketertiban karena dianggap melanggar aturan.
Keprihatinan atas nasib para PKL seperti itu yang menjadi awal terbentuknya Komunitas Ketimbang Ngemis pada 2015.
Saat itu, remaja bernama Rizky Pratama Wijaya melihat seorang lansia (lanjut usia) sedang berjualan kerupuk di Yogyakarta yang.
Tebersit keinginan untuk membantu lansia itu dengan membeli kerupuknya.
”Tapi dia memilih melaksanakan salat Jumat dulu agar nantinya tidak tergesa-gesa saat membeli kerupuk,” kata Ketua Ketimbang Ngemis Malang Maulidatussa Adah Imron.
Selesai salat Jumat, Rizky bergegas menuju tempat lansia penjual kerupuk.
Ternyata orangnya sudah pergi.
Dalam kondisi menyesal, Rizky memiliki ide membuat komunitas yang dapat memberdayakan, dan mendukung para pedagang lanjut usia.
Bersama teman-temannya, Rizky membentuk Komunitas Ketimbang Ngemis di Yogyakarta pada 12 Juni 2015.
Pada bulan yang sama, Rizky sharing ide dengan seorang mahasiswa di Malang yang bernama Aqidatul Firmanullah.
Lewat komunikasi singkat itu, Aqidatul menginisiasi terbentuknya Komunitas Ketimbang Ngemis Malang pada 16 Juni 2015.
Tujuan utama Komunitas Ketimbang Ngemis Malang adalah membantu para pedagang yang sudah lansia.
Bahkan mereka memberi sebutan para pedagang lansia dengan label ”sosok mulia”.
Itu karena mereka lebih memilih tetap berusaha dibanding meminta-minta meski usianya sudah tua.
Kegiatan rutin Komunitas Ketimbang Ngemis Malang adalah melakukan penyisiran atau mencari ”sosok mulia” di sekitar Kota Malang.
Biasanya para pedagang yang sudah berusia di atas 60 tahu.
”Atau pedagang yang kondisi fisiknya sudah kurang baik,” jelas Maulida.
Setelah menemukan ”sosok mulia”, anggota komunitas langsung mendatangi sang pedagang.
Tujuannya memborong dagangan secara bersama.
Mereka juga membantu pedagang itu melakukan promosi melalui media sosial.
Sebagian anggota komunitas ada yang melanjutkan kegiatan dengan melakukan survei ke rumah pedagang.
Tujuannya untuk mengetahui kondisi sehari-hari mereka.
Dalam beberapa kasus, mereka menemukan fakta bahwa pedagang yang dibantu sudah hidup sebatang kara.
”Informasi seperti itu juga kami tampilkan di media sosial untuk menarik simpati masyarakat. Tujuan akhirnya ya membantu agar dagangan para ’sosok mulia’ tersebut laku,” imbuhnya.
Komunitas Ketimbang Ngemis Malang juga menjalankan kampanye #saynotongemis.
Kampanye itu berupa edukasi dan ajakan kepada orang-orang untuk memilih bersedekah dengan cara membeli dagangan para ”sosok mulia”.
Bukan memberikan uang cuma-cuma kepada para pengemis.
Di setiap akhir bulan, Komunitas Ketimbang Ngemis Malang membagikan sembako dan barang-barang yang diperlukan oleh para ”sosok mulia”.
Bisa berupa gerobak untuk membantu berdagang hingga peralatan kesehatan.
Salah satu ”sosok mulia” yang mendapat perhatian Komunitas Ketimbang Ngemis Malang adalah Ny Darsono.
Usianya sudah lebih dari 90 tahun.
Pendengarannya pun sudah jauh berkurang.
Tapi dia tetap berjualan mainan anak kecil di sekitar Masjid Ar Ridho, Temanggung, Kecamatan Blimbing, Kota Malang.
”Pendapatan Ibu Darsono itu tidak menentu. Tapi beliau selalu merasa cukup,” terangnya.
Maulida mengakui apa yang sudah diberikan oleh Komunitas Ketimbang Ngemis tidak terlalu besar.
Tapi mereka akan terus berusaha membantu para pedagang lansia, termasuk promosi melalui media sosial, agar lebih banyak pembeli yang datang. (*/fat)
Editor : A. Nugroho