***
Destinasi pertama kali kami di Mesir adalah menuju ke kompleks piramida. Mustafa Mukhtar, guide lokal yang mendampingi kami, fasih berbahasa Indonesia, meski dia orang asli Mesir. Dia lulusan sastra untuk bahasa Yunani dan latin. Sudah 25 tahun menjadi guide, kebanyakan memandu turis dari Italia. Baru empat bulan ini dia sering memandu turis dari Indonesia. Kepada kami, selama perjalanan dari hotel menuju ke kompleks piramida, dia banyak menceritakan tentang Mesir. Gaya bicaranya menarik. Sesekali diselingi dengan guyonan segar.
Di Mesir, kata Mustafa, saat ini banyak terjadi pemekaran wilayah. Bisa jadi, itu lah yang menambah terjadinya instabilitas politik. Khusus Kota Kairo, masih kata Mustafa, dibagi menjadi dua bagian besar. Ada sisi bagian Kairo kuno. Dan ada juga sisi bagian Kairo modern. Sisi Kairo kuno, ditandai dengan keberadaan Sungai Nil, dan kompleks piramida. Sedangkan Kairo modern ditandai dengan banyaknya gedung-gedung bertingkat.
Saya merasakan, getaran Kairo memang berbeda ketimbang kota-kota di negara lain. Kota ini seperti mampu menghubungkan energi kota dengan beragam budaya. Di kota ini, setiap bagian memiliki getaran dan budaya sendiri. Ada sisi klub yang modern dan ceria. Ada sisi padang rumput pedesaan, hijau dan subur. Tapi, ada juga sisi di mana kita akan merasa seperti berada di zaman kuno. Dan yang menarik, Kairo telah berhasil mempertahankan semua entitas yang berbeda-beda itu.
Dibanding kota-kota lainnya di Mesir, Kairo adalah kota dengan jumlah penduduk terbesar. Sekitar 25 juta orang. "Seperempat dari jumlah penduduk Mesir tinggal di Kairo,” cerita Mustafa.
Dia lantas menjelaskan tentang asal kata Mesir. “Di Alquran, kata Mesir (Mishr) disebut sebanyak empat kali,” ujarnya. Menurut literature yang dia baca, asal kata Mesir berasal dari kata Mezer. Artinya: dilindungi dewa-dewa. Sedangkan ada versi lain yang menyebutkan bahwa kata Mesir diambil dari nama salah satu cucu Nabi Nuh. Namanya Mesrain. Dia tinggal dan meninggal di Mesir. Ada juga yang menyebut Mesir dengan Egypt. “Egypt itu diucapkan oleh orang Yunani,” ujarnya. Sedangkan Kairo, berasal dari kata Al Qahirah yang artinya kota kemenangan.
Mesir adalah bangsa dengan peradaban tertua di dunia. “Mesir terkenal dengan Firaun. Selama 3.000 tahun, Mesir dipimpin oleh 140-an Firaun,” cerita Mustafa. Dan berbicara tentang Mesir sebagai negara dengan peradaban tertua di dunia, tak bisa dilepaskan dari keberadaan piramida.
Saat kami tiba di lokasi piramida, suasananya berada di tengah padang pasir. Jalannya menanjak, ketika menuju ke kompleks piramida. Dan tempatnya agak kotor. Dimana-mana berserakan kotoran kuda. Menurut Mustafa, jumlah piramida yang ada di Mesir sekitar 118 buah. Sebagian besar dibangun di sepanjang Sungai Nil. “Dari ratusan piramida itu, yang kelihatan karena paling besar hanya ada tiga,” ceritanya. Dan kami melihat ketiga-tiganya itu.
ABOUL HOUL: Penulis di dataran tinggi Giza dengan latar belakang Patung Sphinx.
Salah satu piramida yang terbesar itu adalah Giza, karena dibangun di wilayah Giza atau Gizeh. Dengan tinggi mencapai 146,6 meter, Giza pernah menjadi bangunan tertinggi di dunia yang pernah dibuat manusia. Barulah pada 1311 M, Piramida Giza disaingi statusnya sebagai bangunan tertinggi di dunia oleh Katedral Lincoln.
Piramida Giza juga merupakan salah satu makam terbesar yang ada di dunia. Berbeda dengan kompleks pemakaman yang dapat menampung banyak orang, bangunan Piramida Giza hanya digunakan untuk memakamkan salah satu Firaun bernama Khufu dan para isterinya. Khufu adalah Firaun Mesir kedua dari dinasti ke-4. Piramida Khufu menjadi piramida paling agung yang ada di kompleks piramida Giza.
Di deretan kompleks piramida itu, selain terdapat yang berukuran besar, juga ada yang kecil-kecil. “Kalau (piramida) yang kecil-kecil itu untuk makam isteri-isteri Firaun,” kata Mustafa. Dia menceritakan, keberadaan piramida itu dibangun sejak tahun 2.700 SM. “Menurut informasi dari para ahli sejarah, satu piramida itu rata-rata dibangun selama 25 tahun,” lanjutnya.
Jika perkiraan para ahli sejarah itu benar, bahwa satu piramida rata-rata dibangun selama 25 tahun, betapa lamanya. Dan jika melihat begitu besarnya struktur bangunan piramida, saya rasa sangat wajar jika proses pembangunannya butuh waktu yang lama hingga 25 tahun. Bagaimana tidak. Selain konstruksi bangunannya yang besar, menurut para ahli, piramida di Mesir dibangun dari susunan vertical batu granit dan beberapa jenis batu lain sebanyak kira-kira 3 juta buah. Dengan berat setiap buahnya 2,3 ton. Cara meletakkan batunya pun harus akurat. Bangunan yang melenceng, akan membuat konstruksi bangunan tidak seimbang. Dan jika bangunan tidak seimbang, sangat tidak mungkin bisa bertahan utuh dalam ribuan tahun tanpa kerusakan yang berarti.
Ketika pandangan saya mengamati piramida-piramida itu, pada saat yang bersamaan, pikiran saya pun liar kemana-mana yang berangkat dari rasa penasaran. “Jika piramida itu hanya dibikin dari tumpukan batuan saja, lalu teknologi apa ya yang digunakan sebagai perekat dan penjaga ketahanannya selama ribuan tahun?” begitu gumam saya dalam hati. Saya pun mencoba mencari-cari jawaban dari pertanyaan itu. Akhirnya saya dapati sebuah keterangan, bahwa seorang ilmuwan yang dijuluki Bapak Mesir Kuno bernama Jean Francois Champollion pernah mengungkapkan sebuah versi bagaimana piramida-piramida itu dibangun. Menurut dia, pembangunan piramida dilakukan oleh para manusia raksasa yang berjumlah sekitar 10 juta jiwa dengan lama waktu pembangunannya sekitar 23 tahun. Sepuluh tahun untuk persiapan pembangunan dan perancangannya, sisa waktunya untuk mengeksekusi pembangunan.
Versi lain tentang pembangunan piramida juga diungkapkan oleh pakar dari University of Amsterdam: Li Hongzhi dan Daniel Bonn. Pendapat mereka ini dimuat di sebuah jurnal bernama Physical Review Letter. Menurut mereka, cara membawa bahan bangunan piramida di tengah gurun pasir yang luas dibantu oleh sebuah gerobak Mesir. Untuk meringankan beban berat batuan, mereka membasahi jalan yang akan dilalui gerobak dengan air. Kemudian air akan membuat tanah lebih mudah dilalui hingga beban gerobak lebih ringan dua kali lipat.
Setelah beberapa jam berada di kompleks piramida, kami pun kembali ke bus, melanjutkan perjalanan. Dalam perjalanan pulang, kami menyaksikan pemandangan hamparan padang pasir, yang dihiasi dengan bangunan-bangunan piramida dengan berbagai ukuran. Kami sempat berhenti sebentar, di dekat Patung Sphinx, masih di dataran tinggi Giza. Tepatnya di tepi bagian barat Sungai Nil.
Banyak cerita tentang patung yang bentuknya kepala manusia dengan badan Singa ini. Orang Mesir menyebutnya dengan Aboul Houl. Patung Sphinx memiliki ukuran panjang 73,5 meter, lebar 6 meter, dan tinggi dari permukaan tanah 20,22 meter. Karena besarnya ukuran itu, sehingga keberadaannya bisa disaksikan dari tempat agak jauh. Dari jauh, melihat Sphinx, seperti melihat patung itu menjadi penjaga dari piramida-piramida. Jika Piramida-piramida itu diperkirakan dibangun mulai tahun 2.700 SM, maka menurut para ahli, Sphinx diperkirakan dibangun pada tahun 2558-2532 SM, ketika era Firaun Khafre.(bersambung/dilengkapi dari berbagai sumber) Editor : Mufarendra