RADAR MALANG - Praktik body piercing kian menemukan tempat di kalangan anak muda Kota Malang. Aktivitas yang dulu identik dengan simbol pemberontakan, kini mulai dipahami sebagai bentuk ekspresi diri dan pilihan gaya personal.
Salah satunya terlihat pada lapak Ars Piercing yang rutin membuka layanan di kawasan Kajoetangan Heritage setiap Kamis dan Sabtu malam. Dalam satu malam, peminat yang datang bisa mencapai 7 hingga 10 orang. Mayoritas berasal dari kelompok usia 18–22 tahun, dengan latar belakang yang beragam.
Owner Ars Piercing Novi Rahmawati mengatakan, piercing tidak lagi dipandang sekadar aksesori fisik. Bagi sebagian pelanggannya, tindik menjadi cara menyalurkan emosi dan membangun kepercayaan diri.
”Banyak yang datang bukan hanya ingin terlihat beda, tapi ingin mengekspresikan diri mereka,” katanya.
Meski begitu, Novi mengakui bahwa stigma negatif masih melekat di masyarakat. Orang bertindik kerap diasosiasikan dengan perilaku menyimpang atau kenakalan remaja. Pandangan tersebut, menurutnya, perlahan mulai bergeser seiring meningkatnya literasi gaya hidup dan seni tubuh.
”Stigma orang memang tidak bisa kita kontrol. Tapi piercing bisa dilihat sebagai bentuk ekspresi emosional yang lebih artistik,” ujarnya.
Jenis tindik yang diminati pun semakin bervariasi. Jika dulu telinga menjadi pilihan utama, kini pelanggan mulai berani memilih area lain seperti hidung, septum, bibir, alis, lidah, hingga pusar. Novi menyebut, tingkat rasa sakit dan risiko setiap lokasi tentu berbeda, sehingga konsultasi awal menjadi bagian penting sebelum tindakan dilakukan.
’Tingkat sakitnya relatif, tergantung di bagian mana,” ungkapnya.
Aspek keamanan menjadi perhatian utama dalam praktik piercing. Ars Piercing menggunakan jarum sekali pakai untuk setiap pelanggan. Selain itu, Novi selalu memberikan panduan perawatan pasca-tindik, termasuk penggunaan cairan NaCl untuk membantu proses penyembuhan. Ia juga mengingatkan risiko munculnya bump atau benjolan kecil, terutama jika tindikan berada di area tulang rawan dan sering tertekan.
Dari sisi perawatan jangka panjang, Novi menyebut bahwa tindik tergolong aman jika tidak digunakan terus-menerus. Lubang tindik dapat menutup kembali dalam rentang waktu enam hingga dua belas bulan, tergantung perawatan dan kondisi kulit masing-masing individu.
Untuk harga, Ars Piercing mematok tarif mulai Rp55 ribu hingga Rp100 ribu, disesuaikan dengan lokasi pemasangan. Harga tersebut dinilai cukup terjangkau bagi kalangan muda. Melalui layanannya, Novi berharap praktik piercing tidak lagi dilihat dari sudut pandang negatif semata, melainkan sebagai pilihan personal yang bertanggung jawab dan aman. (ori/adn)
Disunting kembali oleh: Satya Eka Pangestu
Editor : Aditya Novrian