MALANG - Bukan hanya kisah tentang burung yang dapat makanan dari selilit ikan hiu. Ada hikayat lain yang disertakan Syekh Muhammad bin Abu Bakar dalam hadis kesembilan dalam kitab Al Mawa’idhul ‘Ushfuriyah yang ditulisnya.
Kisah itu adalah tentang taubatnya Ibrahim bin Adham. Dikisahkan, suatu hari Ibrahim bin Adham keluar berburu. Kemudian ia beristirahat di suatu tempat, menggelar alas, lalu mengeluarkan bekalnya untuk makan.
Begitu bekal makanan berupa roti itu tersaji di hadapannya, tiba-tiba datang burung gagak dan menyambar makanan itu dengan paruhnya. Lalu terbang kembali ke angkasa. Ibrahim heran, mendongak ketika burung itu terbang kembali ke angkasa.
Ibrahim yang kaget kemudian segera naik ke atas kudanya dan mengejar burung tersebut. Menyeberangi bukit, burung itu sempat hilang dari pandangan. Ibrahim terus mengejarnya. Setiap kali hampir berhasil mengejar, burung itu kembali terbang jauh.
Hingga, Ibrahim menemukan seorang lelaki terikat dengan posisi tergeletak miring di gunung. Ia lalu turun dari kudanya dan melepaskan ikatan lelaki tersebut. Ibrahim pun menanyakan apa yang telah terjadi kepadanya.
Lelaki itu mengisahkan, “Sebenarnya aku adalah seorang pedagang. Aku telah dirampok oleh segerombolan perampok. Semua harta yang aku bawa dirampas oleh mereka. Mereka menganiayaku, mengikatku, dan membuangku di tempat ini.
Aku sudah tujuh hari bertahan di sini. Setiap hari, burung gagak itu membawakanku roti. Ia berada di atas dadaku dan memotong-motong roti dengan paruhnya. Kemudian ia menyuapkannya ke mulutku. Selama 7 hari itu, Allah tidak meninggalkanku dalam keadaan kelaparan.
Setelah mendengar cerita laki-laki itu, Ibrahim pun menaiki kudanya dan memboncengkan laki-laki itu untuk diantarkan ke tempat di mana ia tinggal. Kemudian Ibrahim bertaubat dan kembali kepada Allah. Ia melepas dan meninggalkan pakaian bagusnya dan hanya mengenakan pakaian bulu. Ia juga memerdekakan semua budak-budaknya. Ia juga mewakafkan tanah dan harta miliknya.
Kemudian ia mengenakan tongkat dan pergi menuju kota Makkah tanpa membawa bekal dan kendaraan. Ia hanya berpasrah diri kepada Allah dan tidak khawatir dengan bekalnya. Dalam perjalanannya, ia tidak merasa kelaparan hingga ia sampai di kota Makkah. Ia bersyukur dan memuja Allah.
Allah berfirman, “Barang siapa berpasrah diri kepada Allah maka Dia akan mencukupinya. Sesungguhnya Allah berkuasa atas kehendak-Nya. Allah telah menetapkan takdir bagi segala sesuatu.” (QS At Thalaq: 3)
Kembali, dari hikayat ini, kita bisa mendapat pelajaran agar tidak meragukan sedikit pun rezeki dari Allah. Sebab, Allah sudah pasti menjamin ketercukupannya. Cukup untuk kita hidup di dunia ini. Yang seringkali membuat tidak cukup adalah nafsu kita. Sebab, nafsu memang tidak ada habisnya. Wallahu A’lam. (hid/diolah dari sejumlah terjemah kita Al Mawa’idhul ‘Ushfuriyah)
Editor : Aditya Novrian