MALANG - Hikayat kedua dari hadis kesepuluh tentang perintah mengejar surga dan menjauhi neraka dalam kitab Al Mawa’idhul ‘Ushfuriyah karya Syekh Muhammad bin Abu Bakar diambil berdasar penuturan Anas bin Malik. Ia berkisah sebagai berikut:
Ketika diturunkan ayat ini (QS Al Hijr: 43): “Dan sesungguhnya (neraka) jahanam itu benar-benar tempat yang telah diancamkan kepada mereka (pengikut-pengikut setan) semuanya” Rasulullah SAW tiba-tiba menangis.
Para sahabat pun ikut menangis karenanya. Padahal mereka tidak tahu wahyu apa yang baru saja diturunkan oleh Jibril kepada Nabi. Tidak ada pula yang berani bertanya.
Mereka hanya ingat bahwa Nabi akan terhibur setiap kali melihat Fatimah, putrinya. Maka Abdurrahman bin Auf (sebagian riwayat menyebut Umar bin Khattab) segera pergi mendatangi Fatimah di rumahnya.
“Assalamu’alaiki wahai putri Rasulullah,” sapa Abdurrahman.
Fatimah menjawab, “Alaikassalam. Siapa Anda?”
“Abdurrahman bin Auf.”
“Ada perlu apa Anda datang?,” tanya Fatimah.
Abdurrahman pun lantas menceritakan apa yang terjadi. “Tadi Nabi tiba-tiba menangis dan bersedih. Saya tidak tahu wahyu apa yang telah dibawa Jibril untuk beliau.”
“Ya sudah! Pergilah! Aku bersiap-siap dulu. Siapa tahu Nabi akan memberitahu aku tentang hal yang membuat beliau sedih,” jawab Fatimah.
Kemudian Abdurrahman kembali menemui Nabi.
Adapun Fatimah lalu mengenakan selimut usangnya yang ditambal dengan 12 tambalan dari pelepah kurma dan semacamnya.
Baca Juga: Ngaji Ramadan Kitab Ushfuriyah: Hadis 9 Kisah 2 tentang Saudagar yang Diberi Makan Burung Gagak
Ketika Fatimah keluar dari rumah, Umar melihatnya keheranan sampai meletakkan tangannya di atas kepala:
“Duh kasihan sekali! Sungguh putri-putri kaisar dan raja mengenakan sutra kasar dan sutra halus. Sedangkan putri Rasulullah hanya mengenakan selimut dari bulu dengan 12 tambalan pelepah kurma.”
Setelah Fatimah sampai di hadapan Nabi, ia bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah Anda tidak tahu kalau Umar sampai heran melihat pakaianku?”
Ia melanjutkan, “Demi Allah, sejak 5 tahun lalu saya dan Ali (Ali bin Abi Thalib, suaminya, ed.) tidak memiliki tikar sama sekali kecuali kulit kambing gibas yang kalau siang kami gunakan untuk menggembalakan unta dan malam harinya kami gunakan untuk tidur. Bantal kami adalah tulang dan perabot rumah kami adalah dari pelepah kurma.”
Rasulullah menjawab, “Hai Umar! Tinggalkan putriku. Barangkali ia sedang merasa tidak nyaman. (catatan: sebelumnya, Fatimah hidup lebih berkecukupan saat tinggal di Makkah bersama ayahnya, Nabi Muhammad, dan ibunya, Siti Khadijah, yang seorang saudagar kaya raya. Semua kekayaan itu habis untuk perjuangan Rasulullah).”
Setelah Umar pergi, Fatimah bertanya kepada ayahnya, “Demi Allah! Apa yang membuat Anda menangis, wahai Rasulullah?”
Ditanya putri tercintanya, Rasulullah pun menjawab, “Bagaimana aku tidak menangis sedangkan Jibril telah menyampaikanku wahyu: ‘Dan sesungguhnya Jahannam itu benar-benar tempat yang telah diancamkan kepada mereka (pengikut-pengikut setan) semuanya. (QS al Hijr: 43)?’
“Wahai Rasulullah, beritahu aku salah satu pintu Jahannam!” tanya Fatimah (karena ayat 44 dari QS al Hijr menyebut tentang tujuh pintu neraka Jahanam, ed.).
Rasulullah SAW menjawab, “Hai Fatimah! Pintu Jahannam yang paling ringan terdiri dari 70.000 gunung api. Di setiap gunungnya terdapat 70.000 jurang api. Di setiap jurangnya terdapat 70.000.000 perengan api. Di setiap perengannya terdapat 1.000.000 kota.
Di setiap kotanya terdapat 70.000.000 bangunan-bangunan api. Di setiap bangunan- bangunannya terdapat 1000.000 rumah api. Di setiap rumahnya terdapat 70.000.000 kamar api.
Di setiap kamarnya terdapat 70.000.000 peti api. Dan di setiap petinya terdapat 70.000.000 jenis siksaan yang di dalamnya terdapat siksaan yang menjelma penerima siksaan tersebut.”
Mendengar itu, Fatimah langsung menjatuhkan wajahnya, “Sungguh celaka orang yang masuk neraka.”
Ketika Umar mendengar gambaran kecil tentang pintu Jahanam itu, ia berkata, “Andai aku adalah seekor kambing gibas milik keluargaku, lalu mereka menyembelihku, memakan dagingku, memotong-motong tubuhku, dan menghancurkan tulang-tulangku, maka aku tidak akan mendengar gambaran Jahanam.”
Abu Bakar yang ikut mendengar gambaran itu, ikut maju lalu bicara:
“Andai aku adalah burung di padang luas, kemudian aku makan buah- buahan, minum air sungai, bertempat tinggal di batang-batang pohon, maka aku tidak akan mengalami hitungan amal dan siksa dan tidak akan mendengar gambaran Jahannam.”
Begitu pula Ali, “Andai ibuku tidak melahirkanku, andai saja aku mati di usia dini, andai saja aku adalah rumput, kemudian binatang- binatang ternak memakanku, andai binatang-binatang buas memangsaku, maka aku tidak akan mendengar gambaran Jahannam.”
Sedangkan Salman al Farisi memilih keluar, pergi ke arah kuburan Baqi sambil memgang kepalanya dan berteriak keras, “Jauh sekali perjalananku! Sedikit sekali bekal perjalananku di Hari Kiamat!”
Bilal yang melihat hal itu pun bertanya, “Apa yang membuatmu menangis bersedih?”
Salman menjawab, “Celakalah aku dan kamu Bilal! Yang kita pakai selama ini pakaian dari kapas dan katun, nanti kita akan memakai pakaian dari perca-perca neraka.
Celakalah aku dan kamu Bilal! Kita kini memeluk istri-istri kita, nanti kita akan berkumpul dengan para setan dalam neraka.
Celakalah aku dan kamu Bilal! Jika kita harus meminum air mendidihnya dan memakan pohon-pohon berduri Jahannam.”
Jika pada hikayat pertama kita bisa mendapat gambaran tentang betapa indahnya surga, pada hikayat kedua ini sebaliknya. Kita diberi gambaran tentang betapa mengerikannya neraka Jahannam sebagaimana disampaikan Nabi SAW. Sampai-sampai, para sahabat pun ada yang memilih tidak terlahir ke dunia sebagai manusia. Wallahu A’lam. (hid/diolah dari sejumlah terjemah kitab Al Mawa’idhul ‘Ushfuriyah)
Editor : Aditya Novrian