Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Usaha Sekarat, Penyaluran Kredit Merosot

N
Ilustrasi Kredit Perbankan (freepik)
Ilustrasi Kredit Perbankan (freepik)

Advertisement

KEPANJEN – Angka kredit perbankan yang mengalir ke Kabupaten Malang merosot. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Malang per Februari lalu, tercatat 29,17 triliun. Angkanya menurun sekitar 1 persen dibanding Januari lalu, yakni 29,25 triliun.

Advertisement

Penurunan baki debet atau total kredit disebabkan dua faktor. Pertama, apabila penurunan kredit karena ekonomi lesu, itu berarti aktivitas usaha sedang melemah, bahkan sekarat. Kedua, apabila turun karena masyarakat banyak melunasi utang, artinya likuiditas perbankan membaik.

Grafis Malang Raya Angka Kredit
Grafis Malang Raya Angka Kredit

“Baki debet yang menurun tidak selalu negatif. Tapi harus dilihat Non Performing Loan (NPL) yang kali ini sebesar 3,04 persen,” ujar Kepala OJK Malang Farid Faletehan. P kemarin (24/4).

Advertisement

Dia mengatakan, potensi kredit bermasalah berada di angka 3 persen dikategorikan masih dalam batas aman. Sebab kredit dinilai bahaya ketika NPL berada di angka 5 persen. Menurutnya, NPL atau potensi kredit bermasalah sendiri dibagi menjadi tiga level. Yaitu kurang lancar, diragukan, dan macet. ”Apabila angka NPL tinggi, artinya ada tekanan terhadap kemampuan bayar debitur,” katanya.

Dia mengatakan, kombinasi penurunan kredit dengan NPL yang mencapai 3 persen bisa mengindikasikan kehati-hatian dari dua sisi. Yaitu dari perbankan maupun debitur. Itu juga bisa mencerminkan pelunasan kredit yang lebih besar dibanding penyaluran kredit baru.

Padahal, lanjutnya, apabila dilihat dari proporsi penggunaannya, kredit di Kabupaten Malang paling banyak untuk modal kerja. Porsinya mencapai 41 persen. “Itu cukup besar dan berpengaruh terhadap perekonomian daerah,” katanya. ”Sementara 32,1 persennya lagi untuk konsumsi dan 26,9 persennya untuk investasi,” lanjut mantan Kepala OJK Provinsi Kepulauan Bangka Belitung itu.

Dia mengungkap, persebaran kredit atau pembiayaan perbankan diprediksi karena adanya kehati-hatian dari perbankan. Meski di wilayah Kabupaten Malang, dia mengatakan, perbankan lebih banyak menyalurkan kredit untuk sektor non-UMKM, yakni 67,1 persen.

Di sisi yang lain, sektor UMKM yang selama ini cenderung memiliki tingkat NPL tinggi juga mengambil porsi cukup besar, yakni 32,9 persen. “Istilahnya ada rasa kekhawatiran yang besar dari perbankan karena pembayaran kreditnya rawan macet,” lanjut Farid.

Terutama untuk kredit modal usaha di level UMKM. Menurut pantauan OJK Malang, dia mengatakan, beberapa bank besar memang melaporkan tidak menyalurkan kredit sebesar tahun-tahun sebelumnya. Itu karena perbankan melihat kondisi perekonomian yang bergejolak sejak awal tahun.(aff/dan)

Advertisement
Editor : A. Nugroho
Sumber : Radar Malang

Artikel Terkait

Dibanding Tahun Lalu, Jumlah Hewan Kurban yang Diperjualbelikan di Kota Malang 2026 Menurun

Dibanding Tahun Lalu, Jumlah Hewan Kurban yang Diperjualbelikan di Kota Malang 2026 Menurun

Jumlah hewan ternak yang diperjualbelikan untuk kebutuhan Idul Adha diperkirakan menurun. Sejauh ini, pemkot mencatat baru ada 3.155 ekor yang ditawarkan para pedagang. Jumlah itu merupakan hasil pencatatan dari 21

Kejar Pangsa Pasar 20%, ASBISINDO Dorong Keberpihakan Kebijakan dan Penguatan Skala Industri

Kejar Pangsa Pasar 20%, ASBISINDO Dorong Keberpihakan Kebijakan dan Penguatan Skala Industri

Asosiasi Bank Syariah Indonesia (ASBISINDO) mendorong dukungan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan pemerintah untuk mempercepat pertumbuhan perbankan syariah menuju pangsa pasar 20%.

Gelar Bulan Inklusi Keuangan, OJK Dorong Peningkatkan Literasi dan Inklusi Keuangan Masyarakat

Gelar Bulan Inklusi Keuangan, OJK Dorong Peningkatkan Literasi dan Inklusi Keuangan Masyarakat

Peringatan Puncak Bulan Inklusi Keuangan (BIK) bakal digelar Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Malang dan Forum Komunikasi Industri Jasa Keuangan (FKIJK) Malang, Sabtu (31/10)

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer