
Di Dinoyo, pasar dan terminal pernah menyatu dalam satu denyut. Tempat orang mencari nafkah sekaligus berpulang. Riuh bemo, dokar, hingga bus kayu menandai kehidupan yang tak pernah benar-benar sepi. Kini jejaknya nyaris lenyap.
KOTA MALANG, RADAR MALANG - RIUH kendaraan pernah berdenyut dari kawasan Dinoyo, Kota Malang. Hari-hari di sana tak hanya dipenuhi transaksi pasar, tetapi juga lalu lalang manusia yang datang dan pergi. Kini, suasana itu tinggal bayangan.
Terminal Dinoyo yang dulu menyatu dengan Pasar Dinoyo, sudah menutup kisahnya. “Dulu, terminal Dinoyo itu jadi satu dengan Pasar Dinoyo,” tutur sejarawan Kota Malang, Agung Harjaya Buana di temui Jawa Pos Radar Malang kemarin.

Konsep terminal yang menyatu dengan pasar bukan hal baru. Sejak lama, pola itu menjadi template di berbagai daerah. Di Kota Malang, jejak nya juga tampak di Terminal Pecinan di kawasan Pasar Besar, hingga terminal Gadang yang berdampingan dengan Pasar Induk.
Namun Dinoyo punya cerita lebih panjang. Terminal dan pasar tersebut sudah ada sejak awal 1900-an. Lokasi pertamanya di kawasan yang kini menjadi deretan ruko dan Persada Swalayan di Jalan MT Haryono.
Baca Juga: Perbaikan 3 Terminal di Malang Masih Abu-Abu
Pada masa itu, wajah transportasi masih sangat berbeda. Di pelataran pasar, yang parkir bukan kendaraan bermotor, melainkan dokar. Jalanan pun belum sepenuhnya beraspal. Dalam peta-peta lama sebelum 1900 hingga 1946, jalan beraspal di Malang hanya terbatas di jalur utama menuju Batu. Sementara kawasan seperti Dinoyo menuju Jalan Veteran masih berupa jalur kecil.
“Jalan Gajayana sampai pertigaan Meteor Cell dulu dikenal sebagai Cart Path. Jalur khusus dokar dan cikar,” jelas Agung, merujuk peta 1885. Bahkan, jejak Pasar Dinoyo lama masih terekam dalam peta 1924.
Waktu bergerak, Indonesia pun merdeka. Bersamaan dengan itu, transportasi mulai beralih dari tenaga hewan ke mesin. Memasuki era 1950-an, kawasan Dinoyo dipenuhi demo, yakni kendaraan roda tiga beratap dengan mesin terbuka di bagian depan. Fungsinya menyerupai becak, namun bermotor. Dalam sekali jalan, kendaraan ini mampu mengangkut tiga penumpang dan seorang sopir.
Baca Juga: Arus Mudik Lebaran Mulai Terlihat, Penumpang Terminal Arjosari Tembus 4.000 Orang Per Hari
Tak lama berselang, moder nisasi semakin terasa. Akhir 1950-an hingga 1960-an menjadi masa kejayaan bemo, becak bermotor berbasis Daihatsu Midget. Kendaraan ini menjamur dan mulai mengambil peran layaknya angkutan kota saat ini.
Namun satu hal tetap sama, yakni ruang yang terbatas. “Kondisi pasar waktu itu tidak memungkinkan bus masuk dan mangkal. Terlalu kecil, apalagi banyak bemo di dalam,” ungkap Agung.

