Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Dari Malang, Wamenko Pangan Tegaskan Target Swasembada Gula Nasional 2,8 Juta Ton

I
Penulis: Indah Mei Yunita❯
Wamenko Bidang Pangan (baju cokelat) bersama petani tebu di Desa Ganjaran, Kecamatan Gondanglegi Kamis (16/7). (Indah Mei Yunita/Radar Malang)
Wamenko Bidang Pangan (baju cokelat) bersama petani tebu di Desa Ganjaran, Kecamatan Gondanglegi Kamis (16/7). (Indah Mei Yunita/Radar Malang)

Advertisement

GONDANGLEGI, RADAR MALANG – Pemerintah menargetkan swasembada gula konsumsi nasional sebesar 2,8 juta ton sebagai bagian dari penguatan ketahanan pangan. Untuk mewujudkan target tersebut, pemerintah menilai Indonesia masih membutuhkan perluasan lahan tebu hingga sekitar 700 ribu hektare agar ketergantungan terhadap gula impor dapat ditekan.

Komitmen tersebut disampaikan Wakil Menteri Koordinator (Wamenko) Bidang Pangan RI Hanif Faisol Nurofiq saat meninjau lahan pertanian tebu di Desa Ganjaran, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang, Kamis (16/7). Menurutnya, swasembada gula menjadi salah satu program prioritas pemerintah dalam membangun kemandirian pangan nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani tebu.

"Kami terus mengawal langkah-langkah menuju swasembada di lapangan," ujarnya.

Perluasan Lahan Jadi Kunci Swasembada Gula

Hanif mengatakan, pemerintah telah menyiapkan sejumlah strategi untuk mempercepat tercapainya swasembada gula. Salah satunya melalui pembentukan Kementerian Koordinator Bidang Pangan yang bertugas mengintegrasikan kebijakan lintas sektor.

Advertisement

Meski demikian, tantangan terbesar masih berada pada keterbatasan lahan budidaya tebu. Berdasarkan perhitungan tim ketahanan pangan nasional, Indonesia memerlukan tambahan sekitar 700 ribu hektare lahan agar produksi gula dalam negeri mampu memenuhi kebutuhan nasional.

"Membangun ekosistem ini tidak bisa dilakukan secara instan, melainkan harus bertahap dan terukur. Namun, fokus utama kami adalah mendorong iklim industri yang terintegrasi secara kokoh dari sektor hulu, tengah, hingga ke hilir," jelas Hanif.

Impor Gula Dinilai Kurangi Potensi Lapangan Kerja

Selain mengejar target produksi, pemerintah juga berupaya menekan ketergantungan terhadap impor gula, khususnya gula rafinasi untuk kebutuhan industri.

Hanif menyebut, berdasarkan perhitungan pemerintah, setiap impor 3,5 ton gula setara dengan potensi hilangnya satu kesempatan kerja di sektor domestik. Sementara itu, volume impor gula industri saat ini masih berkisar antara 4 juta hingga 5 juta ton per tahun.

Kondisi tersebut, lanjutnya, menunjukkan besarnya peluang yang dapat diciptakan apabila kebutuhan gula nasional mampu dipenuhi dari hasil produksi dalam negeri.

"Peningkatan produksi gula nasional tidak hanya penting untuk ketahanan pangan, tetapi juga berpotensi membuka lebih banyak lapangan kerja apabila seluruh rantai industri gula dalam negeri dapat berkembang secara optimal," pungkasnya.

Advertisement

Artikel Terkait

Produksi Tebu Kabupaten Malang Tembus 4,29 Juta Ton, Gondanglegi dan Bantur Jadi Penyumbang Terbesar

Produksi Tebu Kabupaten Malang Tembus 4,29 Juta Ton, Gondanglegi dan Bantur Jadi Penyumbang Terbesar

Produksi tebu Kabupaten Malang terus meningkat hingga mencapai 4,29 juta ton pada 2025. Kecamatan Gondanglegi dan Bantur menjadi sentra produksi terbesar. Pemerintah menggencarkan program bongkar ratun untuk mendukung sw

Enam Desa di Kabupaten Malang Rentan Pangan, Akses Air Bersih Jadi Sorotan DPRD

Enam Desa di Kabupaten Malang Rentan Pangan, Akses Air Bersih Jadi Sorotan DPRD

Enam desa di Kabupaten Malang masuk kategori rentan pangan ringan. Akses air bersih menjadi salah satu persoalan yang perlu ditangani.

Perkuat Ketahanan Pangan, Warga Binaan LPP Malang Panen 25 Kg Sawi

Perkuat Ketahanan Pangan, Warga Binaan LPP Malang Panen 25 Kg Sawi

Warga binaan LPP Malang panen 25 kg sawi dukung ketahanan pangan. Hasil panen dijual ke vendor Bama dan bina kemandirian.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer