Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Balai Kota Malang Pertama di Kajoetangan  

Mahmudan • Minggu, 9 Juli 2023 | 22:15 WIB

 

BERKREASI: Anggota komunitas penjelajah sejarah belajar membuat sketsa di kawasan Kajoetangan, Jalan Basuki Rahmat.
BERKREASI: Anggota komunitas penjelajah sejarah belajar membuat sketsa di kawasan Kajoetangan, Jalan Basuki Rahmat.

Setelah Kajoetangan Heritage resmi menjadi objek wisata pada Februari lalu, bermunculan anak-anak muda penjelajah sejarah. Salah satunya adalah History Fun Walk (HFW). Apa saja yang dilakukan komunitas tersebut?

 

BARU tiga bulan dibentuk, History Fun Walk (HFW) mempunyai banyak anggota. Semuanya masih muda. Beberapa pekan lalu, sekitar 20 remaja yang tergabung dalam komunitas itu melakukan penelusuran jejak sejarah.

Dipimpin pelopor HFW Yehezkiel Jefferson Halim, puluhan remaja fokus mencari jejak berdirinya Malang hingga era Kemerdekaan. Rute perjalanannya diawali dari Splendid, kemudian mereka menyusuri sungai.

Sengaja dipilih jalur sungai karena sungai merupakan bagian dari alam. Selain itu juga menjadi saksi bisu sejarah Malang raya. Sesampainya di kawasan Klojen, tim berlanjut ke benteng pertama di Malang, di mana orang-orang Belanda menempati benteng tersebut saat pertama kali masuk Kota Malang. Kini, benteng tersebut menjadi Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA). 

Sepanjang perjalanan, para peserta walking tour mendengarkan cerita sejarah dari sejarawan. Mereka juga tidak lupa mengabadikan beberapa objek yang dianggap menarik.

Tuntas menjelajah jejak di sekitar RSSA Malang, mereka menuju kawasan Kajoetangan Heritage. ”Dulu, Kajoetangan menjadi kawasan orang Eropa saat pertama tinggal di sini (Kota Malang),” terang Yehez.

Saat di persimpangan Rajabally, Yehez menunjukkan dua arah. Yakni arah ke Barat menuju kawasan Ijen. Banyak pemandangan menarik di kawasan Ijen. Kawasan tersebut didesain oleh Thomas Karsten dan pernah dinobatkan sebagai desain tata ruang terbaik se Asia Tenggara pada pertengahan 1930 lalu. 

Setelah itu, perjalanan dilanjutkan ke Alun-Alun Tugu. Mereka menyaksikan fun fact lagi, yakni konstruksi gedung Balai Kota Malang. Gedung tersebut baru dibangun pada 1927, padahal Kota Malang lahir pada 1914.

Lalu di mana balai kota sebelum di lokasi tersebut? Yehez menyebutkan ada di kawasan pertokoan Kajoetangan Heritage. Itu didapat dari foto lama yang memperlihatkan kawasan pertokoan Kajoetangan pada waktu itu dan terdapat satu bangunan dengan tulisan Balai Kota dalam bahasa Belanda. ”Sejarah itu bukan sesuatu yang membosankan. Tidak harus urutan-urutan.  Sejarah bisa diceritakan mulai dari hal yang tidak banyak orang tahu," kata pria berusia 22 tahun itu.

Saat ini, tempat-tempat heritage sering kali digunakan untuk tempat berfoto ataupun membuat konten-konten di media sosial medsos. Anak-anak muda sering menyebutnya dengan kata 'aesthetic'. ”Namun sebenarnya ada yang lebih menarik, selain visual yang aesthetic tersebut,” katanya.

”Yakni cerita sejarah di dalamnya. Jadi, kami ingin ajak anak muda untuk lebih mengenali dari sisi sejarahnya,” lanjutnya. (dur/dan)

Editor : Mahmudan
#kajoetangan #malang #balai kota