Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Viral Kata Mberot, Ternyata Begini Makna Istilah dalam Kesenian Bantengan, Ada Unsur Magisnya

Yudistira Satya Wira Wicaksana • Kamis, 16 Mei 2024 | 18:02 WIB

 

Photo
Photo

MALANG - Dalam beberapa waktu belakangan, kata "mberot" semakin sering terdengar di tengah masyarakat, terutama di sekitar Malang Raya. 

Kata ini kerap muncul dalam obrolan sehari-hari, seperti dalam konteks "info mberot", "p mberot", dan "pasukan mberot".

Jadi, apa yang terlintas di pikiran Anda ketika mendengar kata "mberot"?

Kata "mberot" ini memiliki hubungan erat dengan Kesenian Bantengan, sebuah warisan budaya yang kaya akan makna dan simbolisme. 

Dalam pertunjukan Bantengan, biasanya terdapat dua orang pemain yang bertugas sebagai kaki depan dan kaki belakang dari banteng.

Orang yang mengontrol gerakan kepala banteng sering kali disebut sebagai yang "mberot".

Dalam konteks Kesenian Bantengan, jika bagian kepala banteng mengalami kesurupan atau "mberot", biasanya orang yang memainkan bagian belakang juga mengalami hal serupa.

Arti sebenarnya dari kata "mberot" sendiri adalah berontak, marah, atau mengamuk, berasal dari bahasa Jawa Timuran. 

Dalam istilah Jawa, "mberot" juga dapat diartikan sebagai melarikan diri atau lepas dari tali, khususnya merujuk pada sapi yang diikat.

Dengan demikian, ketika seseorang "mberot", seringkali diibaratkan seperti banteng yang sedang berontak dengan tenaga besar.

Dalam pertunjukan Kesenian Bantengan, pemain umumnya menggunakan kostum hitam dengan topeng kepala banteng yang dibuat dari kayu, dilengkapi dengan tanduk asli kerbau atau banteng.

Pertunjukan ini diiringi dengan musik khas seperti gamelan. 

Menariknya, pertunjukan Bantengan baru dianggap sukses jika pemain yang memegang bagian depan, yang biasanya mengalami "mberot" atau kesurupan, dianggap benar-benar terpengaruh oleh energi gaib.

Pertunjukan kesenian ini sering dilihat dalam beberapa acara karnaval, khitan, pernikahan atau festival yang diadakan di salah satu daerah di Jawa Timur. 

Tidak hanya itu, kesenian khas Jawa Timur ini dihadirkan memiliki tujuan sakral, sebagai tolak balak, menghormati leluhur hingga untuk melestarikan seni budaya tradisional agar tidak punah. (Megan Inez Ayu Sabrina)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#bantengan mberot #malang