Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Apa Itu Likuifaksi? Berikut Definisi dan Lokasi Rawannya di Malang Raya

Fathoni Prakarsa Nanda • Senin, 30 Desember 2024 | 18:35 WIB
RIO/RADAR MALANG
RIO/RADAR MALANG

Relokasi atau Menanam Tumbuhan Keras Bisa Jadi Solusi 

MALANG RAYA – Kabupaten Malang menjadi salah satu daerah yang memiliki potensi likuifaksi di beberapa lokasi. 

Yakni fenomena tanah kehilangan kekuatan karena berubah menjadi cair atau setengah cair. 

Umumnya terjadi ketika tanah jenuh air dan tertekan oleh guncangan kuat, sehingga seperti bergerak atau berjalan.

Terbaru, likuifaksi melanda empat titik di Jalur Lingkar Selatan (JLS) perbatasan Malang-Blitar pada 11 Desember lalu. 

Akibatnya, aspal di titik Kelok 9 hancur total dan tidak bisa dilewati selama beberapa waktu. 

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang Zainuddin menyebut, sebelumnya pernah terjadi tiga kasus tanah bergerak. 

Photo
Photo

Yakni di Desa Sukodono, Kecamatan Dampit pada 2022; Desa Tulungrejo, Kecamatan Ngantang pada 2023; dan Desa Tulungrejo, Kecamatan Donomulyo pada 2024. 

“Selama tiga tahun terakhir terdapat beberapa titik di Kabupaten Malang yang telah diidentifikasi sebagai daerah rawan tanah gerak,” ucap Udin. 

Antara lain di Kecamatan Pujon, Ngantang, Kasembon, Tumpang, Poncokusumo, Ampelgading, Tirtoyudo, dan Dampit. 

Pada kasus tanah gerak di Desa Tulungrejo, penyebabnya adalah kejenuhan air dalam tanah. 

Struktur tanah di wilayah yang mengalami gerakan tanah berupa tanah lempung. 

Bukan batuan keras yang mampu menyangga beban di atasnya. 

Hal itu berdasar pengamatan Ketua Pusat Studi Kebumian dan Mitigasi Bencana Universitas Brawijaya Prof Adi Susilo. 

Kasus tanah gerak itu mengakibatkan kerusakan pada bangunan. 

”Kecenderungan retakan yang terjadi membentuk garis yang berhubungan. Disusul retakan di dinding rumah yang tidak kuat menopang bangunan karena fondasi goyah,” imbuhnya. 

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang pun telah mengantisipasi penanganan fenomena tanah gerak. 

Diantaranya melakukan pemetaan terhadap daerah-daerah berisiko tinggi terjadi tanah gerak. 

Seperti Desa Jombok dan Tulungrejo di Kecamatan Ngantang serta Desa Srimulyo dan Sukodono di Kecamatan Dampit. 

“Kami juga sudah memang alat Early Warning System (EWS) di beberapa lokasi rawan,” kata pejabat eselon III B Pemkab Malang itu. 

Alat tersebut untuk mendeteksi pergerakan tanah dan memberikan peringatan dini kepada masyarakat. 

Ada delapan EWS yang sudah dipasang. 

Yakni satu unit di Kecamatan Kasembon, satu unit di Kecamatan Dampit, lima unit di Kecamatan Poncokusumo, dan satu unit di Kecamatan Ngantang. 

Antisipasi lainnya adalah sosialisasi kepada masyarakat mengenai tanda-tanda awal tanah gerak dan langkah-langkah yang harus dilakukan. 

Masyarakat diimbau untuk tidak membangun rumah permanen berbahan beton di daerah rawan dan disarankan membangun rumah dengan struktur yang lebih fleksibel. 

Pihaknya juga mendirikan pos lapangan di empat penjuru angin. 

Itu untuk memantau secara langsung potensi pergerakan tanah dan memberikan respons cepat jika terjadi bencana. 

Tiga Kali di Dusun Brau 

Kota Batu juga memiliki daerah rawan likuifaksi. 

Yakni Dusun Brau, Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji. Maret 2024 lalu, di wilayah tersebut terjadi keretakan tanah dan bangunan saat hujan turun dengan deras. 

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu Agung Sedayu menyatakan, peristiwa itu bukan pertama kali di Dusun Brau. 

Hal yang sama terjadi pada Desember 2022. 

Mengakibatkan kerusakan bangunan SD dan SMP Satu Atap di wilayah itu. 

Agung menjelaskan, retakan terjadi akibat kondisi tanah ekspansif. 

Tanah ekspansif merupakan jenis tanah yang dapat mengalami perubahan volume secara cepat akibat konsentrasi kadar air di dalamnya. 

”Kalau tidak ada kandungan air, tanah ekspansif ini bisa sangat keras. Tapi begitu kena air, tanah itu jadi gembur,” tutur Agung. 

Pada kejadian tahun ini, pergerakan tanah menyebabkan sejumlah lahan persawahan mengalami keretakan. 

Hal yang sama menimpa beberapa tembok SD dan SMP Satu Atap Brau, serta 10 tembok rumah warga. 

Sebagai antisipasi, BPBD Kota Batu membuat dua sumur pelegah untuk mengurangi kadar air di dalam tanah. 

Namun itu belum menyelesaikan masalah lantaran kadar air yang terlalu tinggi. 

Sehingga, solusi yang tepat adalah merelokasi bangunan yang terdampak. 

Area tersebut dialih fungsikan menjadi daerah konservasi tangkapan air. 

”Kami juga melakukan rekayasa teknis penguatan struktur tanah,” lanjutnya. 

Kondisi tanah dan batuan di kawasan Dusun Brau memiliki pori-pori dan kemampuan meloloskan air yang cukup tinggi. 

Kadarnya mencapai 98 persen. 

Bahkan, penggalian tanah sedalam 1,2 meter sudah dapat menyemburkan air. 

Akibatnya, penurunan tanah bergerak cukup signifikan hingga satu meter. 

Kasus tanah bergerak bahkan pernah terjadi pada 2021. 

Mengakibatkan tanah longsor di kawasan Dusun Brau. 

Beruntung pemasangan Early Warning System (EWS) tanah longsor bekerja dengan baik. 

“Kami sempat evakuasi sekitar 16 KK sebelum kejadian,” paparnya. 

Pemeriksaan kondisi tanah telah dilakukan bersama Politeknik Negeri Jakarta. 

Ahli Geoteknologi Politeknik Negeri Jakarta Putera Agung menjelaskan, terdapat akuifer atau lapisan batuan di bawah tanah yang mengandung air di kawasan Dusun Brau. 

“Kami rekomendasikan untuk menanam tanaman keras, seperti cemara atau pinus untuk mengurangi intensitas air,” ujarnya. 

Nihil di Kota Malang 

Sementara itu, BPBD Kota Malang belum mencatat adanya likuifaksi selama tiga tahun terakhir. 

Bencana yang berhubungan dengan tanah lebih sering berupa longsor. 

Utamanya di kawasan permukiman dekat aliran sungai. 

Kepala BPBD Kota Malang Prayitno menuturkan, pihaknya lebih fokus pada mitigasi bencana tanah longsor di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas, Sungai Metro, hingga Sungai Bango. 

Total ada 7 kelurahan yang dinyatakan rawan longsor. 

Yakni Kelurahan Samaan, Kelurahan Jodipan, Kawasan Muharto, Kelurahan Karangbesuki, Kelurahan Pisangcandi, Kelurahan Bunulrejo, dan Kelurahan Kota Lama. 

Untuk peringatan melalui EWS, Pemkot Malang mengandalkan 14 alat. 

Satu merupakan sensor tanah longsor di Kelurahan Joyogrand. 

Sedangkan 13 lainnya merupakan EWS banjir, tapi juga bisa menjadi peringatan rawan longsor. 

Tercatat ada 35 kejadian tanah longsor per 29 Desember 2024. (yun/ ori/adk/fat)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#potensi #Malang Raya #likuifaksi