Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Trek Panjang dan Terjal Jadi Magnet Bagi Pelari, Kerap Ulangi Jalur yang Sama 4 sampai 5 Kali Trail Run Kian Populer di Malang

A. Nugroho • Minggu, 21 September 2025 | 18:37 WIB
ENDURANCE: Hanik Purnomowati berlari menaklukkan medan kaki Gunung Kawi dalam ajang trail run GBLK, Agustus lalu.
ENDURANCE: Hanik Purnomowati berlari menaklukkan medan kaki Gunung Kawi dalam ajang trail run GBLK, Agustus lalu.

MALANG - Demam trail run yang melanda tidak hanya memikat para pria. Perempuan pun kini ikut terjun merasakan serunya berlari melintasi jalur perbukitan dan pegunungan. Salah satunya Hanik Purnomowati. Alumnus Universitas Brawijaya (UB) itu semakin sering berlatih trail run seorang diri.

Lokasi favoritnya ada di Pine Park, Kota Batu. Kawasan tersebut memiliki elevasi hingga 1.200 meter dengan lintasan sepanjang 10–11 kilometer. Ideal untuk simulasi rute menanjak.

Hanik biasanya memulai latihan sejak pukul 05.30. Dalam satu kali sesi, ia mampu menyelesaikan lintasan dalam waktu 45 menit sampai 1 jam. Jika masih kuat, jalur naik-turun itu diulang hingga empat sampai lima kali.

Trail run sendiri lebih enak karena kita bisa tahu betul kemampuan diri, ngeloopnya (mengulang putaran lari) juga terserah kita,” ujar Hanik.

Saat ini ia tengah bersiap untuk mengikuti event Siksorogo Lawu Ultra 2025 yang digelar akhir tahun nanti. Jarak tempuhnya mencapai 50 kilometer dengan elevasi 3.500 meter. Latihan rutin pun mutlak dilakukan agar fisik benar-benar teruji.

Meski demikian, Hanik mengingatkan bahwa perempuan harus lebih waspada saat memilih trek. Apalagi jika ingin latihan sendirian. ”Jangan sampai nge-trail sendirian tapi nggak tahu medan, nanti risikonya bisa kesasar,” paparnya. Karena itu, ia menyarankan untuk mengenali jalur terlebih dahulu sebelum berlari.

Pemilihan waktu juga sangat penting. Hanik selalu memilih pagi hari, terutama di akhir pekan atau tanggal merah. Alasannya sederhana, trek lebih ramai oleh pelari lain sehingga dirinya merasa lebih aman.

Faktor cahaya pun mendukung. Latihan pagi membuat pelari lebih leluasa mengulang lintasan tanpa khawatir kemalaman. ”Kalau sore hari risikonya lebih besar. Bisa tersesat di tengah hutan saat malam,” ucapnya.

Selain mengenali medan dan memilih waktu tepat, Hanik juga menekankan pentingnya membawa serta alat komunikasi. Setidaknya, antisipasi ketika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan di tengah hutan bisa lebih cepat ditangani.

Dari hobi hingga tantangan, trail run memang kian menjadi pilihan gaya hidup baru. Termasuk bagi perempuan yang ingin mengukur daya tahan diri sekaligus menikmati suasana alam pegunungan Malang Raya. (aff/adn)

Editor : A. Nugroho
#trail run #malang #Universitas Brawijaya (UB) #lari